@bdg…’HP lowbat, masuk warnet’

Sebenarnya hari ini ga niat ke warnet… cuma gara- gara HP low bat dan lupa lagi jalur angkot makanya ke warnet sapa tau ada temen yang @BDG yang bisa bantu. Dan Sekarang di sebuah warnet yang padat, cukup panas di sekitar ANEX [nama lain untuk rektorat alias serupa dengan Gedung Pusat-nya UGM]

Ya, alhamdulillah hari ini hari pertama di Bandung, menghirup udaranya lagi setelah sekian lama tak berkunjung. Dari Djogja seperti biasa naek Lodaya malam, ditemani bulan purnama, [subhanallah langit cerah diterangi "lampion" purnama]. Sampe jam 5 pagi, tapi ternyata kota ini sudah bangun jauh sebelumnya. Tujuan adalah ke arah komplek DarutTauhid, setelah cukup terang langsung naek angkot St- Hall - Lembang.. Dan sampailah di tempat tujuan.

Agenda hari ini adalah menemani sepupu jalan-jalan, ketemu temen dan mampir ke ITB, Anex dan Salman, insyaAllah. Dan sekarang aku terdampar di sebuah warnet yang tak jauh dari jembatan layang, karena HP lowbat, padahal rencana mo mampir2… selama di Bandung nginep di kontrakan sodara belakang swalayan DT, alhamdulillah bisa menikmati suasana DT tiap hari, secara selama tanteku pulang ke Djogja, dapet amanah jagain anaknya di Bandung. Sejauh-jauhnya melancong melangkah jalan-jalan ya di DT… Smoga bisa dapat pencerahan dan ilmu baru selama di Bandung, amiin..

si ciTA istirahat untuk sementara, padahal deadlinenya semakin dekat. Agenda syuro dan pencarian donatur KKN, sementara pending dulu ya, afwan…^_^

 

Sepotong Cerita, Bersabar itu lebih baik…

SubhanaLLah, Allah memang punya cara yang paling tepat untuk mentarbiyah hamba- Nya. Pun dengan peristiwa kemarin dan sebelum- sebelumnya. Ada sebuah rencana manisNya, yang terkadang tak disadari. Berawal dari ke- melankolisan- ku yang memang sedang mendominasi. Sudah 4 hari lingkungan kos sepi [meskipun biasanya juga sepi, karena para penghuninya lebih senang mengurung berada di dalam ruang privasinya ], ditambah lagi keceriaan dan jeritan adik- adik kecilku yang biasanya menjadi penawar kejenuhanku yang tak terdengar seperti biasanya [mereka sekeluarga  bedol desa ada acara di Bandung selama 2- 5 pekan] jadilah diriku seperti ini…

Siang itu, adalah UAS Sejarah Statistika dan Filsafat Ilmu [hampir aja salah ruangan, ko  bisa? bisa aja, karena kurang yakin dengan jadwal yang aku tulis, aku tanya pada seseorang yang ternyata memang salah menulis Ruang, " Ah, mba untung saja kita masih 'diselamatkan' klo ga, sudah telat kita," pikirku], padahal ada jadwal pembekalan KKN dari Pa Hendri DPL kami,  tapi untung cuma tanda tangan absen karena kabarnya pa Hendri ada agenda, pembekalan diganti..

Sampailah di ruang ujian B102, Ruang ujian untuk partai besar. Bayangkan aja yang ambil mata kuliah ini dari angkatan 2003 mpe angkatan 2006, entahlah terlalu banyak peminat ato terlalu cinta statistika [ehm, seperti diriku.]

Ternyata apa yang terjadi sodara-sodara? setelah menunggu setengah jam yang ada di meja ujian hanya lembar jawaban dan kertas buram yang disusulkan, dan akhirnya pengawas pun bilang “UAS ditiadakan, klo ada tugas dikumpulkan, nilai akhir diambil dari MIDtest, soalnya ga ada..”, Klo diingat-ingat tadi padahal udah ngosh- ngoshan, takut telat… Tenyata. Alhamdulillah, untung udah jaga2 ngerjain tugasnya, yang sebenarnya tugas itu tak pernah ditugaskan oleh dosennya.

Hmm,sepertinya da satu nilai yang sudah keluar, mata kuliah yang buatku sulit, dan ternyata masyaAllah, tidak ada peningkatan. Hiks, aku memang jarang berjodoh dengan keluarga Kalkulus. Sedihnya. Terbawa emosi. Aku melampiaskan kekecewaan diriku pada seorang sahabat yang rela ku cubit, ku remes-remes dan segala bentuk pelampiasan. Afwan ya miu, tapi jadi lebih tenang ko. ” Sabar ma, tenang, mungkin blom rejekinya kali ye, atau mungkin Allah mau ngasih hadiah yang lebih mengejutkan, daripada kejutan kalkulus lanjut ..

Akhirnya memutuskan untuk langsung ke Filsafat untuk tanda tangan pembekalan, sebelumnya ku telpon salah seorang teman untuk izin karena ada ujian dan di sebrang menjawab “Wah, ane baru mau berangkat dari kosn je..” Dengan Jalur 7, sampe juga di sayap barat UGM. Ternyata di Lt.3 dan ternyata lagi DPL dateng ngasih pembekalan, “Gak jadi izin to pak?” dengan masih membawa kekecewaan pada kalkulus lanjut [yang sebenarnya bukan hal yang menghebohkan tapi kali ini mungkin efeknya lebih lagi pada raport kelulusan nanti, ada hiasan dari Kalkulus]

Sorenya, langsung pulang ke kos dan ah.. sejuknya kamarku.. Menikmati dan menenangkan diri. si Noki pun bergetar ” Mau umi jemput kah? kita mabit di Amanina… kita belajar, begadang.. Lupain tuh kalkulus lanjut [miu lebih beruntung.. hiks].
Akhirnya menerima ajakannya dan kami serta umair pun meluncur di sepanjang RingRoad menuju Amanina. dan benar saja, suasana disana cukup rame dan kekecewaan ku pada kalkulus pun meredup..

Sungguh Al- Qur’an adalah obat jiwa, As- Syifa, subhanaLLah ya Rabb.. ba’da maghrib pun Halaqah bersama seorang mba, menjadi penenang. Melihat wajah saudari- saudari ku yang bersemangat berkisah tentang harinya. Dan Malam itu pun kami begadang, ” Miu siap sampe pagi?” “Sip!”. Mulailah kami menggeluti PSM 2 nya Pak Banar, Dosen yang Keren, berdedikasi tinggi, insyaALLAH.

Dan cerita tentang kekecewaan pun sirna, saat suara- suara yang kurindukan kudengar, apalagi mengabarkan sebuah berita kebahagiaan ” Aa diterima di ITB pilihan pertama, alhamdulillah..” Mujahid kecil ibuku berhasil menggapai cita- citanya ” Barakallah A… Selamat!!” Sebuah kejutan kecil dari- Nya yang tak terduga, karena kemarin sempet greget karena ulah Kampus- kampus yang semakin ‘ GILA’ memeras MaBa, seharusnya Pengumuman Kelulusan itu diumukan pekan ketiga bulan ini, yang akibatnya adekku harus memilih dan mengambil keputusan yang cukup sulit. Tapi Subhanallah, Allah menjawab do’a kami, do’a ibu, do’a kami… dan memberikan jawaban dengan caraNya yang paling tepat. Sebuah kado Milad untuk ibu… Mujahid kecil ibuku, Allah telah memberikan banyak kemudahan untuk mu, smoga Barakah dan slalu dalam ridho Nya, aku bangga padamu. Mujahid!

Smoga aku dapat mengambil hikmah dari sepotong cerita sehari, slalu ada yang terbaik dari Nya untuk kita, slalu ada cara- Nya yang paling tepat untuk kita, saat kita membutuhkan kesabaran, maka ujian adalah tarbiyah Nya, saat kita merasa rindu maka sepilah yang membuat kita merasakan nikmat dan indahnya ukhuwah. Jazakillah atas dua batang coklat besar yang meluluhan ketegangan syaraf- syaraf… Ada yang mau coklat?

Rabb, jadikan kami hamba yang tak pernah lupa denga nikmat Mu, tak pernah lalai untuk bersyukur pada- Mu. jadikan kami barisan dari orang- orang yang mencintai Mu dan Rasul- Mu. amiin…

MR yang baik adalah MtR yang baik, iyakah?!

Reuni Alumni *M*, begitulah nama sebuah acara sederhana yang diadakan oleh sebuah forum yang insyaAllah senantiasa diisi dengan saling mengingatkan kebaikan. Yang hadir di forum ini hanya beberapa orang dari sekian banyak Murabbi Kampus, yang katanya berstatus Pesantren UGM, masihkah titel itu pas disandangnya? [kali ini bukan bahasannya].

Back to the topic. Forum yang bertujuan untuk mengingatkan para kader dakwah akan hak dan kewajibannya sebagai seorang kader. Menjadi Murabbi. Sebuah peran yang seharusnya bukan hanya menjadi sebuah titel atau patut dibanggakan tetapi sebuah amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Menjadi murabbi, memanusiakan manusia. Membina dan bukan membinasakan. Membangun sebuah peradaban dari lingkup terkecil, sebuah ‘ lingkaran’. Ya, sudahkah kita memiliki keinginan untuk berbagi ilmu? Atau kita hanya sekedar ingin dibagi atau mendapat ilmu searah?
Sudahkah kita menjadi murabbi yang baik?

Menjadi murabbi yang baik berarti menjadi mutarabbi yang baik. Ya, mungkin statement itu cukup tepat untuk mengingatkan kita, ketika ingin menjadi murabbi yang baik, maka sudahkah kita menjadi mutarabbi yang baik? [Pertanyaan yang terkadang membuat diri ini berpikir dua kali untuk menuntut yang lebih pada adik- adikku, sudahkan diri ini melakukannya?].

Forum ini sekaligus mengingatkan kami, tentang proses pembinaan itu, sebuah proses yang berkesinambungan dan kontinu. Sebuah ‘keluarga kecil’ [diriku lebih suka menggunakan istilah ini] yang sukses ketika setiap elemen di dalamnya juga memiliki keinginan untuk membina, dan sekali lagi bukan membinasakan. Elemen di dalamnya memiliki smangat untuk membentuk sebuah ‘keluarga kecil’ yang baru, bukan membubarkannya. Kata sebelum titik tadi, menghadirkan pertanyaan, “Lebih banyak mana kelompok yang kita bangun atau kita bubarkan?” [lagi- lagi sebuah pertanyaan yang menohok diriku!!]

Salah satu indikator mutarabbi kita merasa nyaman bersama kita adalah, perasaannya jika mereka melihat kita, kabur, menghidar, lari dan sembunyi atau menghampiri, menyalami dan bertanya “Kapan kita ketemuan?” lalu mereka nyaman berbagi cerita dengan kita. Ah, terkadang kita hampir menyepelekan sebuah ikatan hati itu, menjadikan forum itu hanya sekedar transfer ilmu.

Read more »

Pemuda di Lodaya

Senin malam pekan kemaren , berkenalan dengan beberapa orang, salah satunya seorang pemuda yang tubuhnya cukup kurus [menurut ukuranku], tinggi, gaya pemuda masa kini dengan kaos oblong dan celana tujuhperdelapan, HP n- gage yang selalu dimainkannya. Dia duduk di sebelahku, setelah sebelumnya kursinya di ’pinjam’ seorang ibu yang merasa kurang nyaman duduk berlawanan arah dengan arah Lodaya Malam yang membawa kami Djogja - Bandung.

 Seingatku lebih dari 3 kali ia mondar mandir ke gang kereta, untuk sebuah rokok. Jangan sampe deh, ia merokok di sebelahku, suasana yang sudah terbayang kurang nyaman, waktu istirahat malam ditemani asap rokok. TIDAK! Untung tuh pemuda ngerti juga. Alhamdulillah..

 Percakapan kami pun dimulai, mencoba untuk tetap terjaga. Hampir tengah malam.Tiba- tiba, ” Mba, bisa minta tolong, ganti sim- card di HP ini? HP baru soale.” HP model anyar, ku otak- atik dan Yup! Simcard M3 pun mulai terpasang. Aktif. “Oya, tau server indosat, M3 mba error, ga bisa buka yahoo!”.

” Mba, kuliah di UGM ya? Jurusan apa mba?”

” Saya ***** [sebut aja pemuda itu dengan si ‘D’], kuliah di S***,[Perguruan Tinggi yang cukup terkenal dan Keren, tempat orang- orang cerdas, di Kota Bandung.] Baru semester 2 mbak.”

Dan ceritanya pun mengalir. [Midnite, baru sampe Kebumen, menuju Cilacap]. D aseli Solo dan sering banget pulang ke Solo, karena ia ngerasa gak betah tinggal di Kota Kembang. Apalagi dia kehilangan geng-nya di SMU dulu.

 ” Dulu, saya anak nakal lho mbak, tiap hari pulang malam, maen, kelayapan, motor- motoran, hampir di DO dari Sekolah, malah sampe 2 kali, pas SMP sama pas SMA. Nakal banget ya mba? Bahkan aku keterima di S*T* ga ada yang percaya padahal lewat Test UM-nya. Aku belum betah di Bandung, ga ada temen gaul mba, jauh dari keramaian, ga ada kemauan belajar, tiap hari nge- GAME. [masih untung dari pada terjerumus ke kehidupan yang ga jelas, pikirku]“

” Saya, pengen berubah mbak, tapi susah juga ya, klo dulunya bekas anak nakal.”

 

  Read more »

ciTA

ciTA baca dengan nada ‘cadel’ anak kecil yang memanggil siTA singkatan dari si TugasAkhir alias skripsi [].

Kali pertama kutulis tentang ciTA [nama baru untuk skripsikuh..], ya semester ini kucoba untuk lebih fokus lagi pada tugas yang satu ini. ciTA ku insyaALLAH membahas tentang “Kointegrasi” ya bahasa lebih mudahnya, salah satu pendekatan yang digunakan untuk melihat “Hubungan Jangka Panjang Antara Variabel- Variabel yang diteliti”, aplikasinya mayoritas dalam bidang ekonometrika.

ciTA pun menceritakan dasar- dasar Runtun Waktu, Proses Stokastik, Autoregresif, Regresi Linier, Regresi Lancung, Uji Derajat Integrasi, Stationeritas, sedikit menyinggung VAR [not Value at Risk but Vektor Autoregresif] karena ciTA menggunakan pendekatan Johansen dalam menguji hubungan Jangka panjang antar variabel Time Series Multivariat.

ciTA, masih bingung dengan bagian ketiganya, isinya masih berupa potongan Puzzle yang belum lengkap, masih seperti hasil susunan anak balita cerdas, masih ada ruang kosong… Dan diriku belum menemukannya. Bagian ini, lebih detail tentang “Kointegrasi Johansen”. [Fyuhh... ada yang bisa bantu diriku cari bukuna?]

Ya, itulah ciTA yang menemani hariku.. dengan penuh ci[n]TA. ci[n]TA  orang-orang di sekitarku yang slalu mendukung, menyemangati dan mengingatkan diri ini untuk lebih fokus. Saat mengerjakan ku berharap ci[n]TA-Nya, yang slalu membantuku melangkah. Smoga Allah memudahkan langkah-ku dan semua sahabat yang sedang disibukkan oleh ciTA- nya. Smoga barakah dan mendapat ridhoNya, dan lebih bermanfaat…

Ayo rapikan dan selesaikan ciTA-nya! Gapai dan Temukan CiNtA- Nya, untuk cita- cita, hari esok yang lebih baik sebagai tanda cinta untuk orang-orang tercinta. [muncul tiba- tiba, terinsppirasi dari...] 

Kanggo simkuring sareng rerencangan saparakanca  yang lagi dapat amanah Skripsi ato sejenisnya, SMANGAT!!!! Saling mengingatkan yo!

Diserang Serangga

Alhamdulillah setelah lama menepi, akhirnya nge blog lagi. Pekan kemarin hampir ga ngeBlog, cuma Blogwalking via HP [tetepp].. Tapi ya ga bisa nge Blog. Dan kemarin baru dapet kejutan, sampe terkejut berkali- kali [agak hiperbolis, tapi ya begitulah...].

Kira- kira hari Rabu pagi, tiba- tiba dikejutkan dengan beberapa ‘area merah’ di wajah, “ah, mungkin kena nyamuk” [pikirku..]. Tapi karena sempat merasa gatal dan perih, sorenya ku mulai sadar klo areanya semakin meluas. ” kunaonnya? ” tapi sore itu masih kubiarkan. Dan akhirnya atas rekomendasi seorang sahabat “Coba pake salicyl, moy” . Segeralah malamnya ku berburu salicyl. Alhamdulillah ada seorang mba yang punya, bahkan ada yang bilang “pake minyak tawon aja mba”.

Dan pagi kedua, lagi- lagi ku dikejutkan, kali ini ada bintik- bintik putih nya- entah apalah namanya.. Sungguh aku kaget bukan main.[Bahkan klo mengingatnya masih merinding, Setiap pagi selalu ada perubahan dengan area itu. "Ya Rabb, knapa ya?"], Siangnya segera kutanya seorang mba dokter di kos ku, dan menceritakan kronologisnya. Ada beberapa diagnosa, ALERGI, kena Serangga ato Salah makan. Dan beliau menyarankan untuk beli anti alergi dan CTM. Karena khawatir ada efek sampingnya, aku memutuskan memutuskan untuk menemui pak D****N [tanpa maksud promosi...], seorang dokter spesialis kulit di daerah pogung dan langsung menghubungi ukhtiqu yang baik hati menemaniku “hatur nuhun ya, ukht” .

Ba’da maghrib, meluncurlah kami dengan hotaru ke wilayah pogung. [Alhamdulillah masih buka.. Hm katanya Pak Dokter Udah sepuh, tapi kok masih Muda ya? Eh salah , yang bapa2 itu yang jaga pendaftarannya...] . Sampai di ruang periksa, dikasih cahaya trus…

“Hmm, ini kena serangga.. Nama serangganya “Double B”  [lupa namanya..] pokoknya sejenis serangga, yang biasanya kalo malam hari mendekati cahaya, bisa lampu ato sejenisnya. Mungkin waktu itu lampu kamar kamu nyala, jadi mengundang serangga itu masuk ke kamar, karena biasanya dia hidup di luar rumah. Dia mungkin jatuh pas disekitar wajah, dan merayap2 disekitarnya…”

Ya begitulah kata dokternya dan ada pesan dari beliau:

“Kalau mau tidur jangan lupa lampunya dimatiin, ato dikasih lampu yang redup, ato lampu tidur dan sejenisnya, klo bisa letakkan di bawah ato ketinggiannya sejajar dengan tempat tidur, jadi klo pun ada serangga itu, jatuhnya ga sampe di bagian yang lebih atas dari lampu..”

Ya, insyaAllah pesannya saya ingat, pak. Bahkan serasa diingatkan dengan hadist Rasulullah, untuk meredupkan lampu saat tidur.[tapi nash- nya lupa..]. Subhanallah, dengan ini, diingatkan beberapa hal, tentang kesabaran, ikhlas dan syukur… smoga diri ini menjadi hamba yang bersyukur, atas nikmat kesehatan. amiin.

 

Dan

I Love Cooking

Beberapa pekan ini, para mahasiswi lagi rame- ramenya Lomba Masak, dari Mulai Lomba Masak nasi Goreng, Masak dari Singkong, Lomba Masak Sayur Bening, Buat minuman Es Palu Butung de el..el. Ahad kemarin, ada seorang adik kelas yang tiba- tiba telpon, “ Mba, punya talenan? boleh pinjem? buat lomba masak di BEM, ga ada yang bisa di pinjem talenannya..” Untungnya tante punya dua telenan, akhirnya talenan itu pun diajaknya mampir ke BEM MIPA, dalam Rangka KARTINI-an. Ibu kita yang satu itu, yang terkenal dengan bukunya ” Dari Kegelapan Menuju Cahaya “, ya itu adalah judul asli yang dimaksud KARTINI berasal dari ayat Minadzulumati ilan nur, bukan “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang salah diterjemahkan. Kasihan ibu kita Kartini, tapi kali ini aku tak bermaksud membahasnya.

Back to the topic, ehm… Ya, banyak orang yang bilang, seorang wanita minimal harus bisa memasak. Dan sepertinya ibu cukup sukses menularkannya padaku, meskipun masakan anaknya tak selezat masakan ibu yang dimasak penuh cinta [so sweet..]. I luv cooking. Masak apa aja yang bisa dimasak, karena pada dasarnya bahan makanan yang halal dan thoyib insyaAllah memungkinkan untuk dimasak.

Pernah suatu hari, pulang kuliah, laper, ga sempet beli makan siang, mo ke warung jauh.. Ah, masuklah aku ke dapur, dan menemukan dua buah Labu Siam [jipang = jawa ; waluh= sunda]. Tanpa ba- bi- bu, aku langsung mengolahnya menjadi se- lodor Tumis Jipang Wortel. Langsung deh disantap, pun dengan tante yang baru aja pulang kantor, langsung menyendok tumisan itu. Sampe akhirnya,

” Teh, lihat jipang saya? Soalnya seingat saya masih ada 2 di kulkas..”

Waduh, jangan- jangan jipang yang barusan.. bukan punya tante untuk dimasak, dan ternyata.. Memang benar jipang itu bukan milik tante yang harus kumasak tapi milik babysitter sepupu yang akan di JUS untuk ramuan DIET. Dan satu lagi, kata tante, JIPANG itu special dibeliin mas- mas yang ditaksir si mbak untuk di JUS. MAaP sodara- sodaRA, sungguh tak bermaksud. Jipang punya tante, malah belum ada, karena si Mas yang tadi malah beli LABU untuk di kolak. [ada- ada saja...]

Smoga tak terulang! Saking senengnya sama ni kegiatan, biasanya meluangkan diri di pagi hari untuk melancong ke warung sayur terdekat di sekitar Jalan Kaliurang, sambil jalan- jalan pagi ato olah raga bersama si PoLy- ku [eh udah punya nama tuh sepeda!]. Nah, buat temen- temen yang berdomisili di sekitar Jakal, ni ada beberapa referensi untuk belanja sayur.. [apa coba?! ga papa, sapa tau karena promosi dapet diskon..]

  1. klo mw belanja jam 6an, ada di sekitar hotel vidi 2 depan rumahnya PPAT, ada 2 yang jualan ibunya pake sepeda motor, harga nya lebih mahal dari pada ibu- ibu yang jual sayur di sepeda ontel.. [mungkin karena harus dihitung untuk beli bensin juga]
  2. klo yang lebih murah ada di deket Vidi 3, dari warung PINK belok ke kanan, nah ada dua warung sayur yang cukup besar plus murah udah gitu bisa pesen klo barangnya ga ada, lumayan ngirit dari pada ke pasar.. Belinya bisa eceran..
  3. Nah Klo kesiangan jam 9 ada lagi yang jualan di warungnya ibu pink, bapa- bapa.
  4. klo ga rencana belanja pagi- pagi, ketok aja rumah ibu yang jual sayurnya. []

Awalnya masak bukan hobby, tapi karena memang kebutuhan. Berawal dari lidahku yang kurang terbiasa menyantap makanan “JAWA” yang cenderung lebih manis tapi pedas dan bumbunya yang ‘berat’ di lidah, aroma bawang putihnya juga cukup pekat. Nah, sejak saat itu paririmbon dari ibu, menjadi salah satu kitab pertama saat memasak. Dan alhamdulillah, kata orang rasa nya ga [jauh] beda sama masakan beliau.

Ada yang punya hobby yang sama? Klo ada yuks masak bareng, tapi belanja nya pake uang masing- masing, ato mau beliin bahan masakannya? [dengan senang hati..].

Beberapa waktu lalu, dapet subsidi 3 sisir pisang. Sorenya kami beraksi buat PISANG KEJU COKLAT, hanya sekitar 1/2 jam hidangan sudah tersaji. Nikmat bukan, dapet GRATISAN pula.

Yang terbaru buat Puding Kopyor, yang benar- benar butuh kesabaran. Diriku berencana buat puding kopyor, semua bahan sudah terkumpul, tapi harus bersabar, karena tak bisa langsung buat, karena tiba- tiba terserang masuk angin [uhuk..], walhasil tuh puding baru dibuat jam 2 siang dan pas acara ba’da ashar, puding itu blom mengeras.. Biar lebih segar, ku titipkan di lemari Es-nya tante.. dan besoknya pas mo disajikan, sungguh kaget bukan main, puding itu tak lagi berbentuk…

“SAPA yang NgRuSAk Puding Mima??” sudah kukira, pelaku nya tak lain adalah kakak atau adek yang tak sengaja buka kulkas.

“Aku, tapi aku gak sengaja, tadi aku cuma mau bantu mima potong- potong pudingnya tapi ga bisa, jadinya BAGUS kan??”

Bagus banget pikirku, tapi potongannya itu terlalu abstrak, sampe, sampe tak lagi berupa persegi atau bangun ruang beraturan.. Tapi masih bisa disantap.. Apalagi disajikan dnegan sirup pandan jadi mirip- mirip es BUBLE deh.. [ngarep..]

I luv cooking. Apalagi klo bahannya di subsidi ato gratisan, tapi tetep aja yang paling puas masak hasil keringat sendiri [?! maksudnya... usaha sendiri, uang sendiri]. Sempet kepikiran buka usaha makanan khas sunda di Djogja [semi menghayal..], tapi ga ada follow up, hanya rencana, butuh modal keberanian dan keyakinan. Ah may be someday.. Ada yang mau joinan? []. Jadi inget ditawarin salah seorang boz [hmm?], mau di modalin? Hatur nuhun ah, teukedah repot- repot, secara buat usaha ga semudah itu.. Tapi boleh juga sih, “Bantu HADE menyukseskan program nya di JAWA BARAT, 1000 Lapangan Pekerjaan untuk Masyarakat!! Amanah juga neyh..” Kata seorang teman.

Yup! Smoga esok, hobby itu tak hanya jadi hobby pribadi tapi lebih bermafaat untuk ummat, amiin Allahumma amiin. Bukankah Allah telah menganugrahkan seisi bumi ini untuk kehidupan manusia? Untuk kemaslahatannya? Juga untuk dimanfaatkan sebaik- baiknya. 

Tag: “Kenapa [belum] pake Hijab?”

Hatur nuhun buat mba Amel, yang ngasih ‘tag’ ini, dulu sempat kepikiran berbagi cerita tentang ini tapi ga sempat dan blom jadi- jadi. Eh.. Ternyata ada yang ngirim -undangan-, he..he.. [btw mbak juga dapet dari Um Ibrahim ya? salam kenal gitu dari ku].

Pertanyaan pertama: Kenapa blom pake hijab? Alhamdulillah, saat ini sudah berjilbab dan menutup aurat. Rabb syukurku padamu karena hidayah yang luar biasa. Smoga bisa istiqomah dalam kebaikan…

Pertanyaan kedua : Alasan pake jilbab dan Gimana ceritanya? Begini ceritanya, pada zaman dahulu kala … [kesannya kayak dongeng, dan udah tua banget, smoga ga jd dongeng sebelum tidur..huaahh..]. Nostalgila Nostalgia masa eSMPe, sekitar pertengahan taon 2000 klo ga salah ingat, jilbab  kerudung ini mulai bertengger di kepala ku, kelas 3 SMP caturwulan II tepatnya hari pertama masuk sekolah setelah hampir sebulan libur Ramadhan. Ya, Ramadhan memang bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan. Dan hidayah, salah satu anugrah terindah dalam hidup ini pun datang…

Berawal, dari kepindahan ku ke suatu daerah pinggiran kota Tasik yang kental banget suasana keislamannya, Kampung Pesanten namanya, bersama ortu taon 2000, setelah sebelumnya menetap di rumah nenek salah satu paru- paru kota Tasik yang terkenal dengan kawasan Olahraga nya [dari gapura jalan, disambut lapangan Basket berjejer, GOR Susi Susanti, Taman untuk Berjalan Kaki diatas batu kali yang tersusun melingkar -alternatif pijat refleksi gratis-, GelORa Sukapura, Gelanggang Generasi Muda, trus diseberang rumah ada Lapangan Terbuka untuk Sepakbola yang berkembang jadi tempat Konser para Artis, Stadion Dadaha, Pacuan Kuda, Jalan melingkar khusus Joging dll..].

Subhanallah, ternyata kepindahan itu cukup ber- efek pada diriku. Diriku yang santai, cuek dengan gaya sehari- hari yang simpel [everyday berkaos dan 'swalow' mania, seingat ku dulu pake sendal jepit jadi trend anak sekolahan, halah!] dan gak feminim. Klo dulu, bisa pulang sampe sore dari sekolah atau main ma temen2, setelah pindah jadi lebih awal pulang, soale harus pake Ojeg ato jalan kaki klo ga ada ojeg. Selain itu, masuk ke wilayah rumah pasti ditanya, “Uih na mani sonten neng… [Dari mana neng, sore amat pulang nya?]“, cukup risih kan ditanya gitu. Mana ’gaya’ ku kontras cukup ‘beda’ ma penduduk itu. Mereka mengenakan jilbab, dari orang tua sampe bayi- bayi perempuan mungil yang masih dalam gendongan ibunya, sore TPA deman rumah pasti rame, pagi TKA juga rame, kegiatan pengajian rutin dan radio islami sederhana terpancar [sayang , sekarang gak lagi, hampir smua kader mudanya merantau ke luar kota, yang tersisa anak- anak dan orang tuanya].

Sampai, pada suatu hari di bulan Ramadhan.. Pesantren kilat. Sebuah kajian yang membuatku terdiam, [biasanya buat keramaian, biar ga ngantuk], apalagi saat Ust Anwar nanya, ” Ada putri yang belum berjilbab sehari- harinya? cuma saat pesantren kilat doang…” Tahukah? Cuma aku yang ngacung. Malu!! [Ayo lebih malu lagi sama Allah kan?], untung Ust, cukup memahamiku, dan ga ada kelanjutan pertanyaan,” Knapa belum? padahal..berJILBAB itu wajib HUKUMnya untuk wanita muslimah”, kalimat itu hanya tersirat dari kajian kita.

Read more »

Nyicip..Mie RameN ala indonesia.. [?!]

Pekan kemaren, wisata kuliner lagi, setelah bebrapa kali tertunda. Kali ini mampir di Sapporo Ramen, ya warung tenda yang jual Mie Ramen. Atas rekomendasi seorang teman, ” Katanya enak, yang jual muslim, so kehalalannya insyaAllah terjamin, trus porsinya cukuplah..”. Hari itu kami langsung tancap gas ke Jakal Km 9. Lumayan jauh, tapi tak apalah, mengobati rasa penasaran mie yang dipromosikan oleh seorang teman dengan penuh semangat.

Wisata kuliner ini jadi salah satu agenda rutin untuk lebih mengenal kami masing- masing. Yup, sampailah kami di depan Kebun Buah Naga, ya itulah ancer2 lokasi nya, cukup sejuk karena di wilayah kaliurang atas.. Oya ini kali kedua kami berkunjung ke Saporro Ramen, kali pertama sambutannya agak dingin dan yang menyambut sebuah papan “HARI INI TUTUP, BESOK BUKA”. Kecewa, karena beberapa dari kami sengaja membiarkan cacing berteriak- teriak dari pagi, karena blom dapet subsidi sarapan. Tapi alhamdulillah kali ini, kami disambut ramah oleh seorang ibu, ” Silakan mba… Pesan apa?” Alhamdulillah. Yup saat nya memilih menu!

Hmm ada dua kertas laminating bertuliskan : “ala INDONESIA” dan “ALA SAPPORO RAMEN”. Kontan mata kami langsung tertuju pada barisan- barisan tulisan jepun, Haiyah pesen apa ya?! Kami dikagetkan dengan,

“Aku pesen Kwetiau Goreng, kayaknya enak… Plus Teh Hangat [bukan teh hijau jepang..]“

Ealah mbak yu, masak jauh - jauh kesini pesen kwetiau? Klo itumah deket kosan ku juga ada, lebih enak mungkin… Sesuai kesepakatan kami harus pesen makanan ALA SAPPORO sow, kami bujuk tuh si mbah eh mbak, untuk pesan yang lain. Dan akhirnya kami memesan:

  • Shiyo Ramen [Mie Ramen, yang modelnya ga jauh beda ma mie ayam cuma kuahnya kecap asin, ada telur, daging sapi sekerat, ayam suwir, sayuran dan rumput laut hitam]
  • Oyako Don [Mirip ma nasi plus Capcay atau sayuran yang di oseng serba puanas ]
  • Chicken Teriyaki [Masih sodaraan ma steak may be.. bedanya bumbunya ajah]
  • the last, mie ramen plus seafood, ada cumi, udang, daging sapi, ayam suwir, telur , sayuran dan ruput laut kuahnya khas. Yang ini lupa namanya..

Beberapa menit berlalu [halah!], pesanan datang. Oya kami memilih meja paling pojok dengan ukuran meja paling besar dan bumbu tambahan seperti kecap manis- asin, saus sambal, merica garam dan gula. Sungguh kaget, lihat mangkok mie nya yang guede buanget, seukuran baskom [terlalu belebihan..]. Tapi emang iya. Terbayanglah, gimana usaha kami menghabiskan satu porsi pesanan masing-masing. Tau gini kami pesan satu baskom mangkok berdua. Terlanjur. Kami berusaha menyantapnya dengan penuh perjuangan. Berawal usaha kami meramu bumbu agar sesuai dengan lidah, klo mangkuk ukuran biasa lebih mudah meracik, tapi klo satu mangkuk hampir segede baskom… butuh keterampilan. Selanjutnya, beberapa kali berhenti agar jalur terowongan menuju terminal lambung tak terlalu padat…

Alhamdulillah!! Kami saling membantu menghabiskannya, dan HABIS! Rabbi, smoga yang kami santap dan nikmati barokah. amiin..

Buat temen2 yang tertarik untuk mencoba salah satu makanan khas jepang yang dijual bebas di pasaran [apa coba?], bisa jadi salah satu refferensi, harga terjangkau dan pilihan menu banyak. Lokasinya di Jalan Kaliurang Km 9 depan Kebin Buah Naga.  Selamat mencoba. tunggu Kuliner selanjutnya.

Btw, meskipun kenyang, kami melanjutkan jalan- jalan menyusuri wilayah karang bendo menuju penjual ice cream podeng dan rujak es krim yang ‘terkenal’ di kalangan mahasiswa kos- kosan di sekitar Jalan kaliurang, untuk hidangan di agenda selanjutnya, sepulang Wisata kuliner, [apa ayo?!].

Allah, segala puji untuk Mu, untuk nikmat yang Kau berikan, untuk nikmat sehat, sehingga kami tak punya pantangan untuk menikmati lezatnya makanan.  Jadikan kami hamba yang bersyukur atas nikmatMu. Jadikan apa yang kami lakukan diatas, sebagai jalan untuk memperat ukhuwah kami, dan merapatkan barisan ini, sesuai dengan target “Wisata Kuliner”.

 

Ngerasa sibuk?!..Masih ‘ngeluh..

Beberapa minggu terlibat olah data penelitian biologi, cukup familiar dengan uji berat kering-basah tanaman, tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun dan parameter- parameter lain. Glifosat, Legin, Urea, dan jenis pupuk lainnya. Menyenangkan. Bukan hanya itu, ada semangat dan kesungguhan saat berkumpul dengan mereka di Basecamp. Ya belakangan aku tau, ternyata anak- anak ibu-ibu dan bapak- bapak punya ruangan yang bisa dibilang WAH untuk basecamp mahasiswa, ada dispenser plus ‘bumbu’ untuk meramu teh manis, 3 unit PC yang terhubung internet 24 jam, Full AC dan lantai tertutup karpet hijau. Ruangan di Lt. 2 Fakultas Biologi yang nyaman jauh dari kebisingan.

Berawal dari nyasarnya seorang mba dan temannya ke MMU [Mushola MIPA Utara. red], yang lagi bingung cari biro olah data statistik dan malah bertemu denganku, februari lalu. Sejak itu, aku cukup sering bermain dengan data biologi, berkumpul di basecamp dan berkenalan dengan mereka. Mba Nun, Pa Ed, Pa Ton, Bu MIft, Pa Sutar dan teman- temannya. Beasiswa dari sebuah departemen tempat mereka mentransfer ilmu yang mengantarkan mereka ke Kampus Biru ini. Keren.

Basecamp tempat mereka melepas penat dan bercanda ria, berkisah tentang keluarganya, dari anak yang paling tua sampe tingkah bayi kecilnya, atau berbagi tips tentang rumah tangga dan persoalan keluarga. Keluarga besar dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang sering jadi bahan candaan, ada yang seneng buat orang senyum, ada yang slalu rendah hati, “ah saya kan hanya guru.. ga sehebat anak zaman sekarang, bahkan murid saya jauh lebih keren dari saya, saya mah hanya berusaha hidup lebih baik aja”. Ada seorang bapak, yang selalu membuatku kangen suasana rumah [ah, melankolis.. ]. Ya beliau dari Bandung, gaya canda orang sunda melekat khas, logat sundanya yang kental cara memperlakukan orang sekitar dengan gaya priangan sedikit mengobati homesick yang melanda. Pernah beliau mengajaku bertualang naik Kereta Api Ekonomi, untuk menghemat ongkos pulang, padahal itu hari libur -long weekend- yang pastinya ga ada tiket kosong untuk bisa menikmati tempat duduk. “Berani, neng? Hayu atuh! Ulah sibuk teuing di jogja, meungpeung aya batur ka Tasik urang sareng jeung bapa. “ Ada seorang ibu yang selalu berbagi dan sudah kuanggap seperti mbak-ku, menyemangati untuk selalu belajar dan belajar.

Guru- guru yang menyenangkan. Jadi ingat cerita Andrea Hirata dan Bu Muslimah di Kick Andy. Mengharukan.

Read more »