gak jadi Murabbi …. ndeso….

Setuju dengan pernyataan diatas? atau menolak????

Knapa harus jadi Murabbi? Knapa harus punya mutarobbi? Knapa harus membina?

Pikiran qu melayang ke masa- masa SMA, tempat pertama kali aQ terjebak dalam Lingkaran yang tak berujung, sebuah lingkaran yang kekuatannya adalah semangat, ukhuwah serta keimanan/ ketaqwaan… Terjebak? Benarkah? Ya karena tanpa kusadari aQ telah berada di dalamnya, bukan karena suatu kebodohan, tapi karena hidayah Nya, yang dia sampaikan pada seorang kakak.

Masa- masa yang slalu membuatku tersenyum jika mengenangnya, menjadi kader mbandel, yang kabur ketika sang kakak datang, atau hadir karena kasihan (+),karena sang kakak datang jauh-jauh dan menyempatkan waktunya hanya untuk menemani kami ngaji. Astaghfirullah…. smoga Allah mengampuni qu.

Hingga sampailah di kampus biru, kampus perjuangan, kampus yang smakin mengenalkan Q padanya, mengenalkan Q akan indahnya ukhuwah dan tarbiyah Nya…

Lalu, tentang sebuah lingkaran itu…. cukupkah dengan menikmatinya? ternyata tidak hanya sampai disitu, ada sebuah tanggung jawab, konsequensi bahkan sebuah kewajiban, untuk membaginya dengan orang lain, sebuah kewajiban untuk membina….bukan membina-sakan tentu! Cukupkah?

“ketika kita sudah punya ilmunya, maka ada suatu kewajiban untuk berusaha mengamalkannya”, bahkan Allah sangat membenci orang yang berilmu tapi tak mengamalkannya, pun dengan beramal tanpa ilmu, Al- quran mengutuk orang yang beramal tanpa ilmu… (>>lengkap, buka kembali fiqh prioritas, ilmu sebelum amal).

” Sampaikan lah, walaupun hanya satu ayat….”

Untaian kalimat diatas cukup mengingatkan Qu, sudah berapa lama aQ ter- tarbiyah? lalu sudahkah Qt mentarbiyah? Astaghfirullah,,,,

So, tunggu apa lagi? tegakah Qt membiarkannya dengan tdk membagi/ membina? Membiarkan dunia ini semakin dipenuhi oleh orang-orang yg tak bertanggung jawab?

inilah saatnya menjadi Murabbi /yah….kata seorang saudara “gak jadi murabi, ndeso…”, tapi bukan itu yang kita harapkan, berharaplah ridho Nya, berharap menjadi hamba yang Allah inginkan, berharap untuk menjadi lebih baik di mata Allah…

Allah, smoga aQ tak menyia-nyiakan nya….Smoga aQ tidak hanya terlena dengan penjagaannya, tapi juga membuatQ ingin berbagi dengan orang lain akan indahnya tarbiyah Mu ini….indah nya islam…. dan Maha Indah nya Engkau….

Saat diri ini mulai menyadari, bahwa aQ terjebak dalam lembah penuh kebaikan, tak ingin ku melepaskannya, kuatkan aQ untuk lebih bisa memahami nya, hingga tak ada perasaan terjebak ato dijebak (sapa yang menjebak???) yang ada hanya lah rasa syukur dan ikhlas, memahami bahwa ini bagian dari tarbiyah Mu, wallahu’alam karena suatu kebenaran hanya datang dari Mu….

bismillah….

9 Tanggapan

  1. baca tulisan ini, aku jadi inget temen2 akhwat ku dulu…hiks hiks jadi sedih n rindu dg mereka smua, kurang lebih pengalamanku sama dengan Irma di awal2 menuju tarbiyah.
    Menurutku seorang murobbi adl orng yg cerdas n bisa membagi waktunya dengan baik, antara kuliah atau kerja, n mengisi taklim lalu mengisi kajian halaqoh, jadi kalau udah jadi murobbi bersyukurlah, terutama murobbi yang sukses…
    Menjadi murobbi berarti menantang n mendorong diri utk menjadi lebih baik, karena dalam hal ini kita membina orang lain. Otomatis, amal ibadah kita harus lebih baik dari sebelum2nya jgn sampe kita menyerukan kpd mad’u utk banyak ibadah n beramal tp kita sendiri sering lalai, murobbi harus punya ilmu yang banyak, pengetahuan ttg Islam dan umum jg harus ditambah, seorang murobbi jg ga boleh gatek, means gagap teknologi…dan ga bosan utk terus belajar memperkaya diri :)

  2. akhwat ya ?
    ah salah masuk lagi

  3. sorry, suka buka2 hasil karya temen2 yg lain

    Bukan generasi instan

    Ku tata jiwa yang terkubur dalam gelap
    Ku bingkai dengan hati yang masih menyimpan nurani
    Ku rawat itu dengan sebuah mimpi besar
    Kan lahir sebuah harap
    Pada jiwa yang tak pernah rapuh dalam sesaat

    Ku bawa mereka ke pelataran surga
    Ku dongengkan tentang kisah indah perjuangan RasulNya
    Ku harap,
    Kisah-kisah awal jaman itu kan tergores kuat
    Di dada dan di tapak jalan mereka
    Ku harap,
    Itu tak berakhir dalam helaan kecewa
    Saat tatap nanar itu tersandung duka

    Ku rakit cerita dari kisah-kisah nyata
    Tentang perjuangan perjuangan pejuang yang mendamba cintaNya
    Ku harap kisah itu kan beralih pada mereka
    Dalam wujud nyata amal dan gerak

    Ku harap,
    Mimpi itu dapatlah terwujud
    Bersama senyum dan tunduk mereka

    Ku sadari itu,
    Karena mereka
    Bukan generasi instan!!

    Buat sahabat-sahabat yang selalu “merenda getar cahaya di atmosfer cinta” tiap pekannya di forum-forum “LQ”

    muslimilitan_1987@yahoo.com, 8.56 pm. Feb 1st, 2007

  4. schoen…bener banget…zaman sekarang jadi murabbi and punya mutarabbi kudu and mesti…keuntungan und manfaatnya buanyak banget…buat para murabbi and mutarabbinya juga…biar bisa saling berbagi dan saling mengingatkan…membentuk jiwa kepemimpinan dengan menjadi murabbi dan belajar untuk mendengar dan patuh pada pemimpin bagi mutarabbi…pokoknya keren banget…ayo buruan jadi murabbi dan hunting mutarabbi…
    Danke…

  5. nice article

    saya posting di blog saya ya, tentu saya cantumkan sumbernya

  6. Alhamdulillah… jazakillah ya… smoga bermafaat…
    Sudahkah kita membina dan tetap terbina?? InsyaAllah….

    Smoga Allah meneguhkan kita tuk tetap disini….
    “Hai orang- orang yang beriman, barangsiapa diantara kalian yang melepas ikatan kesetiaan dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Ia cintai dan mereka pun mencintai Nya…” [QS. Al maidah : 54]

    Smoga kita tak termasuk golongan org2 yang berlepas diri dari agama Nya.. Naudzu billah.. Smoga bisa istiqomah di Jalan Nya…

  7. Selama murobbinya bener gak masalah, gimana kalo murobbinya mengarahkan ghiroh ukhti kepada kepentingan organisasi/partai/golongan ?

  8. duha penunggu mawar ungu. kasihanilah kaca karena dia selalu menatap diri yang begitu banyaknya tanpa mengetahui dirinya sendiri. ia adalah kebeningan yang dilapisi keindahan perak sehingga bening air yang telah tua digantikan dengan mudahnya. maka apakah ada kemudahan dalam proses mengamati dirinya sendiri. aku juga sepakat denganmu ketika mereka mereka yang mengaji hanya dimanfaatkan oleh partai tertentu untuk memenangkan suara. aku sepakat mereka akan sangat kasihan di alam penghisaban kelak. namun, aku lebih sepakat kepada mereka yang memanfaatkan partai untuk merengkuh surga. membolakin semua tatanan democrazy di Indonesia menjadi Islam. memang terlalu tertatih. tapi sejujurjujur hatiku, kukatakan bahwa mereka yang dimanfaatkan partai akan menyesal, mereka yang dengan sukarela memasukkan diri kepartai tertentu untuk berdakwah dan memanfaatkan partai untuk surga, kurasa tidak masalah bukan? mungkin bersebrangan denganmu kawan.

  9. apa arti murobbi jika ia tak bisa menghadirkan “perubahan” pada mutarobi2nya. apa arti “mutarobi” jika ia tak mampu tuk mengkreasi jiwa dlm amal nyata. apa arti Liqo, jika kebersamaan yang terjalin hanya buahkan rutinitas belaka??

Tinggalkan Balasan