Mengeja Rindu

Lima huruf yang nyatanya merangkum banyak rasa.  Ketika pilihan ini menimbulkan eksternalitas,  maka rindu tak cukup hanya di eja. Ketika supply tak seimbang dengan demand nya, maka butuh kemampuan untuk memaksimalkan potensi setiap faktornya agar lebih efektif dan efisien mencapai tujuannya, bahagia.  Mengurangi eksternalitas yang muncul menjadi suatu keharusan,  karena rasa ini tak bisa dimonopoli,  karena kestabilan ini perlu tetap dijaga. Yang terpenting tetaplah menjaga pola hubungan antara aktor,  kamu dan aku,  kita yang saling merindu. Allahumma innaka ta’lamu anna hadzihil qulb,  qadijtama’at ‘alaa mahabbatik,  wal taqot’ alaa tho’atik…

Iklan

Djogja

Kemarin hanya mimpi,  menghirup udara pagi di sini, merindukan setiap sudut kota nya dan menjadi bagian dari lagi dari kampus biru lagi. Maka Allah,  memeluk mimpi. Seketika di saat yang tepat,  Dia mewujudkan mimpi. Kita manusia, selalu punya mimpi,  meski tau apa konsekuensi mimpi itu ketika nyata. Bukankah tugas kita seharusnya bersyukur?  Ketika tak semua orang mimpinya Allah hadirkan begitu tanya? Seharusnya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan? Bisa jadi bukan Djogja yang sebenarnya yang kamu rindukan,  tapi suasananya yang pernah menyimpan jejak di hatimu.  Saatnya membuat jejak-jejak baru yang kelak akan dirindukan.  Mengukir kisah yang kelak menjadi pengingat kebaikan yang menambah rasa syukur, menjadi pelajaran dan penyemangat untuk cita-cita yang lebih baik, terutama untuk dua pasang mata terbaik,  Kay. 

Cerita Lama

Ini cerita lama dengan rasa baru.  Percayalah selalu ada rasa pertama untuk setiap cerita baru meskipun hanya mengulang cerita lama. Long Distance Mariage. Tiba juga waktunya, harus ikhlas menjalaninya, yang memang tak mudah. Ada sepasang mata yang mengikhlaskan separuh jiwanya mengembara sendirian di sebuah kota besar yang istimewa.   Ada dua hati yang hebat yang terlatih belajar mandiri.  Allah mampukan kalian, kesayanganku. Dan ada ummi yang akan selalu menyelipkan do’a untuk kalian,  ada ummi yang dibayang-bayangi rasa yang tak bisa ummi tuliskan.  Itu rasa pertama untuk cerita lama di episode yang baru ini. Saatnya menjadi hebat di masing-masing peran. Juga ummi. Wish u (all of u)  here. Peluk jauh. 

Timuru

Dua episode LDR lantas tak pernah membuat rasa cemburu itu hilang, karena cemburu itu bukan tak percaya tapi itu bagian dari cinta. Hanya perempuan yang tau rasanya cemburu seperti ini. Cemburu bukan karena hal kasat mata, tapi semua hal tentangmu.

Hanya perempuan yang tau, rasanya saat kenyataannya harus LDR lagi, meskipun ia memilihnya dengan sadar se sadar sadarnya. Tapi aku yakin, rasamu mesti sama, hanya saja tak terungkap.

Hanya perempuan yang tau, rasanya harus memilih, antara cita-cita dan cita cinta. Setiap pilihan itu selalu ada konsekuensinya. Aku tau dan kamu juga. Baiklah kita susun rencananya bersama dan ini serius. Semoga rencana kita sejalan dengan rencana Allah.

cinta

Hey, aku sudah jatuh cinta padamu dan aku ingin selalu membangun cinta bersamamu agar aku dapat jatuh cinta berkali- kali padamu, pada orang yang sama dan selalu sama, sejak aku pertama mengenalmu, kini dan nanti hingga aku menua bersamamu sehidup sesurga.

 

Jazakallah khair abahmu.

Video Call

Jadi gini yah rasanya ditelpon pake video call sama pacar… Berasa pertama kali di telpon sama si dia dulu zaman KKN di Nglegi. Kamu memang ga seromantis lelaki- lelaki di film drama di Televisi atau film- film yang biasa kita nonton di bioskop. Tapi kemarin dirimu berhasil membuatku tersipu malu, klepek- klepek gitu, berasa pacaran lagi di telpon. Berasa zaman LDR an sama kamu, dulu, episode satu dua dan…

Abah, aku padamu.

yang slalu seneng diperhatiin sama kamu, diperhatiin terus sama kamu