Orok Pembelajar

Setiap anak itu punya kekhasan tersendiri. Dan mendampingi anak pun butuh kemampuan khusus yang hanya ada di sekolah kehidupan. Mendidik anak perempuan tentunya berbeda dengan mendidik anak laki-laki. Kaysan Khairy. Lelaki cerdas dan bijak yang penuh dengan kebaikan. Do’a ummi abah yang terhimpum dalam namanya.

Ade. Kaysan. Jika kk lebih betah main di rumah maka ade lebih senang mengeksplore sekitar rumah. Wajar karena laki-laki. Pertama ke laut dan sampai sekarang, kk ga mau berenang di pantai berombak, dan memilih main pasir dan ade apapun suka, main pasir oke berenang oke tanpa takut. Smoga ade selalu semangat berbagi kebaikan, berbuat baik agar slalu penuh dengan kebaikan yang akan mengantarkan pada ketaqwaan. Amiin.

Emak Gregetan VS Anak Cuekan

Ka, mungkin kita berbeda. Pasti ummi! Beberapa karakter kita memang tak selalu sama. Setuju ummi! Ka, percayalah ummi tak ada maksud sedikitpun memaksakan ke-gregetan-an ummi sama kk.

Baiklah ka. Kk ga harus bangun jam se-x. Yang penting kk sebisa mungkin masuk sekolah tepat waktu. Nah jadi gimana? Karena aturan sekolah itu bukan kita yang buat, kita tak melulu hidup sendiri sekeluarga, tapi kita hidup di masyarakat.

Kk ga harus milih mau mandi dulu atau makan dulu, kecuali usahakan sholat shubuh dulu. Sepertinya drama pagi hari menjadi bumbu penyedap sehari-hari yah. Tak apa, setiap orang tau selalu berusaha memberi yang terbaik untuk anaknya. Percayalah.

Ketika emak greget anaknya kesiangan, anak cuekan cuma bilang “ga apa-apa mi, besok kita bangun jam 3 pagi biar ga kesiangan” realitanya, kk bangun jam setengah enam “maap ngantuk mi..”.

Ketika emak greget , sebenernya kk bisa jawab yang bener, tapi kenyataanya salah dan anak cuekan cuma bilang “iyah, emang kk kurang fokus, besok mah fokus koq”

Ketika emak greget, nilai nya udah bagus setelah beberapa hari dapet B sekarang jadi A eh balik lagi B, anak cuekan cuma bilang “biar atuh mi, kan bagus ada A, B A kurang..” 

Ketika emak greget, pengen tau hapalan anaknya, anak cuekan bilang “emang ummi udah hapal berapa ayat? Sok ummi dulu yang ngapalin”, si emak bilang “ummi udah hapal x ayat, temen kk malah ada yang udah hapal semua ayat” dan anak cuekan tercinta pun “biarin we mi, itu mah kan orang lain, ini mah kk”

Dan lagi-lagi si emak yang gregetan ini harus menahan egonya.. Menjaga sabarnya, menahan emosinya, menjaga ke’aslian’karakter anaknya, yang seiring sejalan akan berkembang lebih baik. InsyaAllah pasti! Ummi abah yakin kk punya bakat hebat.

Ketika Anak Pertama Masuk SD

Alhamdulillah wa syukurillah.. Masuk SD memang bukan sekedar menyiapkan anak belajar calistung. Tapi lebih dari itu…

Diawali dari pilihan si kk untuk sekolah di full day school. PR yang lebih besar bukan buat anaknya, tapi orang tua. Kebayang, harus bangun lebih pagi, memulai aktifitas lebih pagi minimal 1 jam dari biasanya. Kenapa? Karena jam masuk anak sekolah maju 1 jam dari biasanya.

Yup, kk masuk jam 6.45 dan pulang jam 14.00. Awal-awal agak khawatir,PR pertama “masuk tepat waktu”. Nah drama pun dimulai. Disinilah saatnya “ujian mata kuliah managemen waktu” seorang ibu.

Lalu, jam berapa si kk harus bangun? Agar minimal jam 6.25 si kk udah siap berangkat sekolah.

Drama pun dimulai…

Si emak dan abah harus bangun lebih pagi dari biasanya, karena sebelum sekolah ada beberapa kebiasaan yang sudah disepakati bersama. (Alasannya, agar si kk terbiasa dengan rutinitas sehari-sehari, terbiasa dengan harapan bukan terpaksa tapi suatu saat ia akan senang melakukan kebiasaannya). Apa aja rutinitas itu? Sholat, mandi, sarapan dan ‘mengenalkan kemandirian’. Wow berat! Ga seberat itu sih, kemandirian bisa hanya sekedar pake baju, milih dan kaos kaki sendiri, isi minum sendiri dll.

Karena dialog sama si kk itu, butuh ‘alasan yang bisa masuk logikanya’ maka emak dan abahnya harus senantiasa menyiapkannya termasuk menyiapkan segudang kesabaran biar ga kepancing emosi. (Nah ini yang berat!)

Hasilnya alhamdulillah sejak masuk sekolah di hari pertama, lebih banyak yang masuk tepat waktu daripada yang terlambat.

Baiklah, ka.. Setiap hari kita kerjasama lebih kece lagi. Smoga kk menikmati setiap proses belajar. Smoga jadi anak sholehah. Smoga sehat dan makin cerdas. Smoga selalu senang berbuat kebaikan ya ka..

Anak pertama, adalah guru terdekat bagi orang tua. Bukan cuma guru terdekat tapi guru yang tak pernah berhenti mengajar tanpa pamrih. Love u pilukkkk kk…

ART

Sudah lebih dari tiga pekan tanpa ART, akhirnya bocils dititipkan d neneknya. Dilematis. Tak ingin merepotkan karena sudah cukup merepotkan beliau di usianya yang tak lagi muda. Punten mah.. Tapi lagi-lagi dengan berat hati neneknya menjadi pilihan utama menitipkan buah hati. Maka sejak gari itu, mengungsilah kami. Sepekan, maa d repotkan, sepekan pula rumah ditinggalkan. Kekacauan d rumah karena ulah tikus, tuppy pun habis digigitnya, pintu bolong-bolong dimana-mana, pipa saluran cuci piring ikut menjadi santapannya. Belum lagi kamar tidut san lemari yang berganti tuan. MasyaAllah.

Dua pekan, semakin banyak menelan korban tuppy dan barang-barang lain. Tiga pekan, semakin banyak lagi. Ditambah dengan perasaan yang semakin tak nyaman, karena malah merepotkan beliau. Punten mah.. 

Jadwal masuk dan pulang kantor pun tak tentu, bukan tak ada jadwal tapi apa daya. Rutinitas sehari-hari ditanggung sendiri (baca: berdua denganmu). Hikmahnya, kami semakin terbiasa mandiri. Nikmatnya, karena hampir setiap pekerjaan dibagi berdua, termasuk urusan setrikaan yang balapan ambil pakaian yang kecil dan ringan, yang belakangan, dengan lapang dada menggosok pakaian yang lebih besar.

Lelah, tapi tetap harus semangat, ingat! Tak ada energi sisa untuk mereka dua pasang mata mungil yang dengan sabar menunggu kedatangan, merelakan waktunya bersama “superhero” nya.

ART, dua sisi mata uang bagi ibu bekerja dengan batita, balita ataupun beranjak dewasa. ART selalu sukses membuat dunia ibu bekerja jungkir balik. MasyaAllah, smoga Allah memudahkan dalam urusan ini. Amiin.

Om

image

Ini om, yang lebih dari separuh usianya ‘sakit’. Sakit yang Allah bebaskan untuknya kewajiban- kewajiban seperti kita pada umumnya. Ini om, yang selalu sayang sama keluarga. Ini om, yang darinya belajar bahwa “Allah tidak akan memberi ujian diluar kemampuan hambanya”.
Aku pernah mengenal ‘sadar’ nya hanya sebentar. Aku, satu- satunya keponakannya yang pernah ia ajak naik motor vespa butut keliling kota. Smoga Allah selalu menyayanginya, lebih dari dari kasih sayang kami padanya. Smoga Allah memberi kesehatan terbaik untuknya. Smoga kami diberikan kesabaran, kemampuan dan kebahagian untuk selalu merawatnya.
Neng sayang om.