Dinas Luar Bikin Baper

Sejujurnya, kebaperan kali ini disponsori oleh padatnya jadwal suami dinas luar. Kenapa harus dinas luar? Jawabannya karena ‘tugas’ dan memang ‘ditugaskan’, jadi ya ketika ditugaskan harus amanah menjalankannya. Lah trus, tau tugas kenapa masih baper? Karena saya perempuan yang punya perasaan, bukan karena cemburu (yang itu tuh) lho ya, karena 2 episode LDL, cukup efektif menekan rasa cemburu saya, insyaAllah suami amanah dan insyaAllah Allah menjaga (hati) suami dari hal ini ( saya percaya, dia juga takut sama Allah).

Setiap beliau mengabari, kalau hari x sampai y itu beliau dinas luar, tiba-tiba refleks kebaperan ala emak-emak otomatis muncul. Padahal dulu pas jamannya LDR rasanya kami termasuk anak-anak sudah terasah untuk ini. Tapi ternyata untuk hal ini, LDR ga jamin. 

Hey, perempuanmu ini ga bisa jelaskan secara ‘jentre’ alasan kebaperan ini. Meskipun sudah mencoba bikin berparagraf-paragraf, dihapus, ditulis lagi dan dihapus lagi, tetap ga bisa. Hey, perempuan mu tak bisa dan tak pernah menolak atau melarang untuk hal ini, tapi maaf karena kebaperannya membuatmu merasa berat dan terbebani. Mungkin ini bagian dari yang namanya cinta yang sulit dijelaskan. Percayalah, insyaAllah perempuan ini hanya perlu dimengerti, didengarkan, diberi pundak dan pelukan juga dibekali paket komplit sebelum dan setelahnya.

Terimakasih, sudah mencoba memahami. Karena mencintai itu satu paket, bukan sebagian, tapi menyeluruh. Karena menikah itu belajar sepanjang waktu, bukan sekedar membaca buku, bukan pula belajar dari pengalaman orang lain. Karena nyatanya kita, aku dan kamu yang menjalankan, yang merasakan dan menikmati. Karena hubungan ini istimewa, karena Allah yang mengikat perjanjiannya. Happy to learn and learn, more and more to be the best of us..

Balada Emak Kerja

Ini bukan kali pertama dan kali kedua, tapi ini yang kesekian kalinya nany ga masuk di kala ‘genting’. Saat pak suami dinas luar dan harus berangkat sepagi mungkin, sementara si kk masuk sekolah tak kalah pagi, si emak yang udah melek sebelum subuh dengan harapan pekerjaan rumah bisa selesai sebelum berangkat ke kantor, tiba-tiba jungkir balik karena nany ga masuk, ga bisa dihubungi dan ga tau kemana.

Seragam yg udh nempel, berganti seragam ala ala mommy kece (IRT, kenapa IRT itu kece?? Karena ga semua istri dan ibu siap, sabar dan terampil menjadi IRT, ga percaya coba aj) daster. Pakaian ternyaman dipake di rumah. Daster kita bukan daster si mbah2, tapi daster yang bikin si paksu terpesona.

Sebelumnya sejak pagi tadi sambil nyuap, sambil masak, puter mesin cuci, blender bumbu dan nyapu. Satu mesin berhenti, si emak, langsung isi ember dan bilas pakaian, sambil nunggu pakaian wangi.Blender beres, kompor satu mateng, ganti masakan berbumbu blender, dan rebus air mandi yang banyak, biar sekaligus dipake berdua krucils.

Setelah ganti kostum, setingan yang tadi sempet diganti ke kantor, diputer lagi, yup multitaskingnya on lagi. Bayangin jadi ibu rumah tangga kece tadi yang multitasking nya selali diasah setiap saat. Hebat bukan? Emak ini mah, terasahnya cuma di pagi hari di sore dan malam hari sama di hari libur, dimana nany / asistennya ga ada.

Eits, tapi ini balada emak kerja, yang harus terasah nyeting multitasking, manajemen waktu (tsaaahh..) dan kerjaan kantor. Balada emak kerja terjadi saat paksu ga di rumah alias LDR, no nany _nocry_ , ada masalah d kantor yang ga boleh kebawa pulang atau manajemen lelah ditambah postingan teman sejawat yang mengurangi rasa syukur. MasyaAllah deh.

Jadi gimana biar balada emak kerja, tak larut berkepanjangan? Qanaah, syukur nikmat, nambah stok sabar, banyak baca banyak belajar dan ikhlas. Itu aja? Itu bukan “cuma AJA /hanya”, tapi prakteknya tak semudah teori, realitanya tak seindah angan-angan dan harapan. Makanya ga usah berangan-angan. Semangat ya emak2!!

Lelaki Pilihan

Sejak itu, ia terlalu takut untuk menceritakan kisahnya pada siapapun. Pahit manis kisahnya hanya ia yang tahu, meskipun sesekali kami diajak mencicipi manisnya tanpa ia sadari. Ah, kau memang terlalu ‘kuat’ untuk seorang perempuan setengah baya.

Hanya satu alasan, mengapa ia begitu kuat, ia konsisten dengan pilihannya. Ia terima semua konsekuensi atas pilihannya selama ini, termasuk “lelaki ini adalah pilihanku, lelaki ini yang telah kupilih menjadi imamku, dan aku berjanji menjaganya selamanya, apapun yang terjadi, aku akan tetap bersamanya.” Terucap dari lisan yang yakin dan sudah dipikirkan matang.

Saat itu, usianya tak jauh denganku, saat ia memutuskan memilih lelaki itu. Seperempat abad ia lewati bersama lelaki itu suka dan duka. Tanpa ia tahu, apa yang telah lelaki itu lakukan padanya.

Yang ia lakukan hanya berkhidmat padanya, rasa sayang dan cintanya tak pernah surut diterpa ombak.

Berbahagialah menjadi lelaki pilihannya, ketika ada seorang yang siap berkhidmat padanya tanpa tapi. Lelaki pilihan, yang ia pilih bukan tanpa alasan. Keshalihan, santun, cerdas, wibawa, tampan dan banyak lagi. Lelaki pilihan yang ia impikan menjadi imam yang membawanya ke surga. Lelaki pilihan yang dipundaknya ia simpan harapan dan cita-citanya.

Lelaki pilihan, yang orang tuanya ridho melihat keyakinan pilihannya. Smoga Allah meridhoi pilihanmu. Bonusnya, ia akan membawamu k surga, jika dalam perjalanannya ia tak sejalan, smoga menjadi amal kebaikan.

Terserah

Sebenarnya apa arti terserah? Pasrah? Ikhlas? Menyerahkan, mengikuti dan menerima pilihan orang lain tentang kita atau apa? Jangan bilang terserah jika belum sepenuhnya menyerahkan urusan pada orang lain. Berusaha menikmati apapun yang ada disekitar, bahkan kata Aa Gym, “jangan sedih klo nasi sudah menjadi bubur, buatlah bubur istimewa”

Dan, alhamdulillah Allah selalu memudahkan untuk segera ‘membuat bubur istimewa’ itu. Berusaha untuk tidak berlama- lama dalam hal yang merugikan diri sendiri, meratapi nasib dan sejenisnya. Allah menyuruh setiap kita untuk bersyukur, lalu masih adakah alasannya untuk tidak bersyukur? Fabiayyi alaa i Rabbikuma Tukadziban?

Bukannya tidak bersyukur berada disini, namun dalam kondisi seperti ini jika boleh memilih, disana lebih profesional, disana lebih bijak, disana ilmu dan kemampuan lebih dihargai. Bukan ingin dihargai? Bagaimanapun, hati tetaplah hati. Merindukan suasana gedung E lantai 6 Ruang 628. Ternyata benar, setiap episode itu slalu menyimpan kenangan yang akan dirindukan kemudian. Itulah sebabnya tak ada alasan untuk tidak mensyukuri setiap kejadian, sedih atau bahagia.

Orok Pembelajar

Setiap anak itu punya kekhasan tersendiri. Dan mendampingi anak pun butuh kemampuan khusus yang hanya ada di sekolah kehidupan. Mendidik anak perempuan tentunya berbeda dengan mendidik anak laki-laki. Kaysan Khairy. Lelaki cerdas dan bijak yang penuh dengan kebaikan. Do’a ummi abah yang terhimpum dalam namanya.

Ade. Kaysan. Jika kk lebih betah main di rumah maka ade lebih senang mengeksplore sekitar rumah. Wajar karena laki-laki. Pertama ke laut dan sampai sekarang, kk ga mau berenang di pantai berombak, dan memilih main pasir dan ade apapun suka, main pasir oke berenang oke tanpa takut. Smoga ade selalu semangat berbagi kebaikan, berbuat baik agar slalu penuh dengan kebaikan yang akan mengantarkan pada ketaqwaan. Amiin.

Emak Gregetan VS Anak Cuekan

Ka, mungkin kita berbeda. Pasti ummi! Beberapa karakter kita memang tak selalu sama. Setuju ummi! Ka, percayalah ummi tak ada maksud sedikitpun memaksakan ke-gregetan-an ummi sama kk.

Baiklah ka. Kk ga harus bangun jam se-x. Yang penting kk sebisa mungkin masuk sekolah tepat waktu. Nah jadi gimana? Karena aturan sekolah itu bukan kita yang buat, kita tak melulu hidup sendiri sekeluarga, tapi kita hidup di masyarakat.

Kk ga harus milih mau mandi dulu atau makan dulu, kecuali usahakan sholat shubuh dulu. Sepertinya drama pagi hari menjadi bumbu penyedap sehari-hari yah. Tak apa, setiap orang tau selalu berusaha memberi yang terbaik untuk anaknya. Percayalah.

Ketika emak greget anaknya kesiangan, anak cuekan cuma bilang “ga apa-apa mi, besok kita bangun jam 3 pagi biar ga kesiangan” realitanya, kk bangun jam setengah enam “maap ngantuk mi..”.

Ketika emak greget , sebenernya kk bisa jawab yang bener, tapi kenyataanya salah dan anak cuekan cuma bilang “iyah, emang kk kurang fokus, besok mah fokus koq”

Ketika emak greget, nilai nya udah bagus setelah beberapa hari dapet B sekarang jadi A eh balik lagi B, anak cuekan cuma bilang “biar atuh mi, kan bagus ada A, B A kurang..” 

Ketika emak greget, pengen tau hapalan anaknya, anak cuekan bilang “emang ummi udah hapal berapa ayat? Sok ummi dulu yang ngapalin”, si emak bilang “ummi udah hapal x ayat, temen kk malah ada yang udah hapal semua ayat” dan anak cuekan tercinta pun “biarin we mi, itu mah kan orang lain, ini mah kk”

Dan lagi-lagi si emak yang gregetan ini harus menahan egonya.. Menjaga sabarnya, menahan emosinya, menjaga ke’aslian’karakter anaknya, yang seiring sejalan akan berkembang lebih baik. InsyaAllah pasti! Ummi abah yakin kk punya bakat hebat.

Ketika Anak Pertama Masuk SD

Alhamdulillah wa syukurillah.. Masuk SD memang bukan sekedar menyiapkan anak belajar calistung. Tapi lebih dari itu…

Diawali dari pilihan si kk untuk sekolah di full day school. PR yang lebih besar bukan buat anaknya, tapi orang tua. Kebayang, harus bangun lebih pagi, memulai aktifitas lebih pagi minimal 1 jam dari biasanya. Kenapa? Karena jam masuk anak sekolah maju 1 jam dari biasanya.

Yup, kk masuk jam 6.45 dan pulang jam 14.00. Awal-awal agak khawatir,PR pertama “masuk tepat waktu”. Nah drama pun dimulai. Disinilah saatnya “ujian mata kuliah managemen waktu” seorang ibu.

Lalu, jam berapa si kk harus bangun? Agar minimal jam 6.25 si kk udah siap berangkat sekolah.

Drama pun dimulai…

Si emak dan abah harus bangun lebih pagi dari biasanya, karena sebelum sekolah ada beberapa kebiasaan yang sudah disepakati bersama. (Alasannya, agar si kk terbiasa dengan rutinitas sehari-sehari, terbiasa dengan harapan bukan terpaksa tapi suatu saat ia akan senang melakukan kebiasaannya). Apa aja rutinitas itu? Sholat, mandi, sarapan dan ‘mengenalkan kemandirian’. Wow berat! Ga seberat itu sih, kemandirian bisa hanya sekedar pake baju, milih dan kaos kaki sendiri, isi minum sendiri dll.

Karena dialog sama si kk itu, butuh ‘alasan yang bisa masuk logikanya’ maka emak dan abahnya harus senantiasa menyiapkannya termasuk menyiapkan segudang kesabaran biar ga kepancing emosi. (Nah ini yang berat!)

Hasilnya alhamdulillah sejak masuk sekolah di hari pertama, lebih banyak yang masuk tepat waktu daripada yang terlambat.

Baiklah, ka.. Setiap hari kita kerjasama lebih kece lagi. Smoga kk menikmati setiap proses belajar. Smoga jadi anak sholehah. Smoga sehat dan makin cerdas. Smoga selalu senang berbuat kebaikan ya ka..

Anak pertama, adalah guru terdekat bagi orang tua. Bukan cuma guru terdekat tapi guru yang tak pernah berhenti mengajar tanpa pamrih. Love u pilukkkk kk…