@bdg…’HP lowbat, masuk warnet’

Sebenarnya hari ini ga niat ke warnet… cuma gara- gara HP low bat dan lupa lagi jalur angkot makanya ke warnet sapa tau ada temen yang @BDG yang bisa bantu. Dan Sekarang di sebuah warnet yang padat, cukup panas di sekitar ANEX [nama lain untuk rektorat alias serupa dengan Gedung Pusat-nya UGM]

Ya, alhamdulillah hari ini hari pertama di Bandung, menghirup udaranya lagi setelah sekian lama tak berkunjung. Dari Djogja seperti biasa naek Lodaya malam, ditemani bulan purnama, [subhanallah langit cerah diterangi “lampion” purnama]. Sampe jam 5 pagi, tapi ternyata kota ini sudah bangun jauh sebelumnya. Tujuan adalah ke arah komplek DarutTauhid, setelah cukup terang langsung naek angkot St- Hall – Lembang.. Dan sampailah di tempat tujuan.

Agenda hari ini adalah menemani sepupu jalan-jalan, ketemu temen dan mampir ke ITB, Anex dan Salman, insyaAllah. Dan sekarang aku terdampar di sebuah warnet yang tak jauh dari jembatan layang, karena HP lowbat, padahal rencana mo mampir2… selama di Bandung nginep di kontrakan sodara belakang swalayan DT, alhamdulillah bisa menikmati suasana DT tiap hari, secara selama tanteku pulang ke Djogja, dapet amanah jagain anaknya di Bandung. Sejauh-jauhnya melancong melangkah jalan-jalan ya di DT… Smoga bisa dapat pencerahan dan ilmu baru selama di Bandung, amiin..

si ciTA istirahat untuk sementara, padahal deadlinenya semakin dekat. Agenda syuro dan pencarian donatur KKN, sementara pending dulu ya, afwan…^_^

 

Iklan

Sepotong Cerita, Bersabar itu lebih baik…

SubhanaLLah, Allah memang punya cara yang paling tepat untuk mentarbiyah hamba- Nya. Pun dengan peristiwa kemarin dan sebelum- sebelumnya. Ada sebuah rencana manisNya, yang terkadang tak disadari. Berawal dari ke- melankolisan- ku yang memang sedang mendominasi. Sudah 4 hari lingkungan kos sepi [meskipun biasanya juga sepi, karena para penghuninya lebih senang mengurung berada di dalam ruang privasinya ], ditambah lagi keceriaan dan jeritan adik- adik kecilku yang biasanya menjadi penawar kejenuhanku yang tak terdengar seperti biasanya [mereka sekeluarga  bedol desa ada acara di Bandung selama 2- 5 pekan] jadilah diriku seperti ini…

Siang itu, adalah UAS Sejarah Statistika dan Filsafat Ilmu [hampir aja salah ruangan, ko  bisa? bisa aja, karena kurang yakin dengan jadwal yang aku tulis, aku tanya pada seseorang yang ternyata memang salah menulis Ruang, ” Ah, mba untung saja kita masih ‘diselamatkan’ klo ga, sudah telat kita,” pikirku], padahal ada jadwal pembekalan KKN dari Pa Hendri DPL kami,  tapi untung cuma tanda tangan absen karena kabarnya pa Hendri ada agenda, pembekalan diganti..

Sampailah di ruang ujian B102, Ruang ujian untuk partai besar. Bayangkan aja yang ambil mata kuliah ini dari angkatan 2003 mpe angkatan 2006, entahlah terlalu banyak peminat ato terlalu cinta statistika [ehm, seperti diriku.]

Ternyata apa yang terjadi sodara-sodara? setelah menunggu setengah jam yang ada di meja ujian hanya lembar jawaban dan kertas buram yang disusulkan, dan akhirnya pengawas pun bilang “UAS ditiadakan, klo ada tugas dikumpulkan, nilai akhir diambil dari MIDtest, soalnya ga ada..”, Klo diingat-ingat tadi padahal udah ngosh- ngoshan, takut telat… Tenyata. Alhamdulillah, untung udah jaga2 ngerjain tugasnya, yang sebenarnya tugas itu tak pernah ditugaskan oleh dosennya.

Hmm,sepertinya da satu nilai yang sudah keluar, mata kuliah yang buatku sulit, dan ternyata masyaAllah, tidak ada peningkatan. Hiks, aku memang jarang berjodoh dengan keluarga Kalkulus. Sedihnya. Terbawa emosi. Aku melampiaskan kekecewaan diriku pada seorang sahabat yang rela ku cubit, ku remes-remes dan segala bentuk pelampiasan. Afwan ya miu, tapi jadi lebih tenang ko. ” Sabar ma, tenang, mungkin blom rejekinya kali ye, atau mungkin Allah mau ngasih hadiah yang lebih mengejutkan, daripada kejutan kalkulus lanjut ..

Akhirnya memutuskan untuk langsung ke Filsafat untuk tanda tangan pembekalan, sebelumnya ku telpon salah seorang teman untuk izin karena ada ujian dan di sebrang menjawab “Wah, ane baru mau berangkat dari kosn je..” Dengan Jalur 7, sampe juga di sayap barat UGM. Ternyata di Lt.3 dan ternyata lagi DPL dateng ngasih pembekalan, “Gak jadi izin to pak?” dengan masih membawa kekecewaan pada kalkulus lanjut [yang sebenarnya bukan hal yang menghebohkan tapi kali ini mungkin efeknya lebih lagi pada raport kelulusan nanti, ada hiasan dari Kalkulus]

Sorenya, langsung pulang ke kos dan ah.. sejuknya kamarku.. Menikmati dan menenangkan diri. si Noki pun bergetar ” Mau umi jemput kah? kita mabit di Amanina… kita belajar, begadang.. Lupain tuh kalkulus lanjut [miu lebih beruntung.. hiks].
Akhirnya menerima ajakannya dan kami serta umair pun meluncur di sepanjang RingRoad menuju Amanina. dan benar saja, suasana disana cukup rame dan kekecewaan ku pada kalkulus pun meredup..

Sungguh Al- Qur’an adalah obat jiwa, As- Syifa, subhanaLLah ya Rabb.. ba’da maghrib pun Halaqah bersama seorang mba, menjadi penenang. Melihat wajah saudari- saudari ku yang bersemangat berkisah tentang harinya. Dan Malam itu pun kami begadang, ” Miu siap sampe pagi?” “Sip!”. Mulailah kami menggeluti PSM 2 nya Pak Banar, Dosen yang Keren, berdedikasi tinggi, insyaALLAH.

Dan cerita tentang kekecewaan pun sirna, saat suara- suara yang kurindukan kudengar, apalagi mengabarkan sebuah berita kebahagiaan ” Aa diterima di ITB pilihan pertama, alhamdulillah..” Mujahid kecil ibuku berhasil menggapai cita- citanya ” Barakallah A… Selamat!!” Sebuah kejutan kecil dari- Nya yang tak terduga, karena kemarin sempet greget karena ulah Kampus- kampus yang semakin ‘ GILA’ memeras MaBa, seharusnya Pengumuman Kelulusan itu diumukan pekan ketiga bulan ini, yang akibatnya adekku harus memilih dan mengambil keputusan yang cukup sulit. Tapi Subhanallah, Allah menjawab do’a kami, do’a ibu, do’a kami… dan memberikan jawaban dengan caraNya yang paling tepat. Sebuah kado Milad untuk ibu… Mujahid kecil ibuku, Allah telah memberikan banyak kemudahan untuk mu, smoga Barakah dan slalu dalam ridho Nya, aku bangga padamu. Mujahid!

Smoga aku dapat mengambil hikmah dari sepotong cerita sehari, slalu ada yang terbaik dari Nya untuk kita, slalu ada cara- Nya yang paling tepat untuk kita, saat kita membutuhkan kesabaran, maka ujian adalah tarbiyah Nya, saat kita merasa rindu maka sepilah yang membuat kita merasakan nikmat dan indahnya ukhuwah. Jazakillah atas dua batang coklat besar yang meluluhan ketegangan syaraf- syaraf… Ada yang mau coklat?

Rabb, jadikan kami hamba yang tak pernah lupa denga nikmat Mu, tak pernah lalai untuk bersyukur pada- Mu. jadikan kami barisan dari orang- orang yang mencintai Mu dan Rasul- Mu. amiin…

MR yang baik adalah MtR yang baik, iyakah?!

Reuni Alumni *M*, begitulah nama sebuah acara sederhana yang diadakan oleh sebuah forum yang insyaAllah senantiasa diisi dengan saling mengingatkan kebaikan. Yang hadir di forum ini hanya beberapa orang dari sekian banyak Murabbi Kampus, yang katanya berstatus Pesantren UGM, masihkah titel itu pas disandangnya? [kali ini bukan bahasannya].

Back to the topic. Forum yang bertujuan untuk mengingatkan para kader dakwah akan hak dan kewajibannya sebagai seorang kader. Menjadi Murabbi. Sebuah peran yang seharusnya bukan hanya menjadi sebuah titel atau patut dibanggakan tetapi sebuah amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Menjadi murabbi, memanusiakan manusia. Membina dan bukan membinasakan. Membangun sebuah peradaban dari lingkup terkecil, sebuah ‘ lingkaran’. Ya, sudahkah kita memiliki keinginan untuk berbagi ilmu? Atau kita hanya sekedar ingin dibagi atau mendapat ilmu searah?
Sudahkah kita menjadi murabbi yang baik?

Menjadi murabbi yang baik berarti menjadi mutarabbi yang baik. Ya, mungkin statement itu cukup tepat untuk mengingatkan kita, ketika ingin menjadi murabbi yang baik, maka sudahkah kita menjadi mutarabbi yang baik? [Pertanyaan yang terkadang membuat diri ini berpikir dua kali untuk menuntut yang lebih pada adik- adikku, sudahkan diri ini melakukannya?].

Forum ini sekaligus mengingatkan kami, tentang proses pembinaan itu, sebuah proses yang berkesinambungan dan kontinu. Sebuah ‘keluarga kecil’ [diriku lebih suka menggunakan istilah ini] yang sukses ketika setiap elemen di dalamnya juga memiliki keinginan untuk membina, dan sekali lagi bukan membinasakan. Elemen di dalamnya memiliki smangat untuk membentuk sebuah ‘keluarga kecil’ yang baru, bukan membubarkannya. Kata sebelum titik tadi, menghadirkan pertanyaan, “Lebih banyak mana kelompok yang kita bangun atau kita bubarkan?” [lagi- lagi sebuah pertanyaan yang menohok diriku!!]

Salah satu indikator mutarabbi kita merasa nyaman bersama kita adalah, perasaannya jika mereka melihat kita, kabur, menghidar, lari dan sembunyi atau menghampiri, menyalami dan bertanya “Kapan kita ketemuan?” lalu mereka nyaman berbagi cerita dengan kita. Ah, terkadang kita hampir menyepelekan sebuah ikatan hati itu, menjadikan forum itu hanya sekedar transfer ilmu.

Baca lebih lanjut

Pemuda di Lodaya

Senin malam pekan kemaren , berkenalan dengan beberapa orang, salah satunya seorang pemuda yang tubuhnya cukup kurus [menurut ukuranku], tinggi, gaya pemuda masa kini dengan kaos oblong dan celana tujuhperdelapan, HP n- gage yang selalu dimainkannya. Dia duduk di sebelahku, setelah sebelumnya kursinya di ’pinjam’ seorang ibu yang merasa kurang nyaman duduk berlawanan arah dengan arah Lodaya Malam yang membawa kami Djogja – Bandung.

 Seingatku lebih dari 3 kali ia mondar mandir ke gang kereta, untuk sebuah rokok. Jangan sampe deh, ia merokok di sebelahku, suasana yang sudah terbayang kurang nyaman, waktu istirahat malam ditemani asap rokok. TIDAK! Untung tuh pemuda ngerti juga. Alhamdulillah..

 Percakapan kami pun dimulai, mencoba untuk tetap terjaga. Hampir tengah malam.Tiba- tiba, ” Mba, bisa minta tolong, ganti sim- card di HP ini? HP baru soale.” HP model anyar, ku otak- atik dan Yup! Simcard M3 pun mulai terpasang. Aktif. “Oya, tau server indosat, M3 mba error, ga bisa buka yahoo!”.

” Mba, kuliah di UGM ya? Jurusan apa mba?”

” Saya ***** [sebut aja pemuda itu dengan si ‘D’], kuliah di S***,[Perguruan Tinggi yang cukup terkenal dan Keren, tempat orang- orang cerdas, di Kota Bandung.] Baru semester 2 mbak.”

Dan ceritanya pun mengalir. [Midnite, baru sampe Kebumen, menuju Cilacap]. D aseli Solo dan sering banget pulang ke Solo, karena ia ngerasa gak betah tinggal di Kota Kembang. Apalagi dia kehilangan geng-nya di SMU dulu.

 ” Dulu, saya anak nakal lho mbak, tiap hari pulang malam, maen, kelayapan, motor- motoran, hampir di DO dari Sekolah, malah sampe 2 kali, pas SMP sama pas SMA. Nakal banget ya mba? Bahkan aku keterima di S*T* ga ada yang percaya padahal lewat Test UM-nya. Aku belum betah di Bandung, ga ada temen gaul mba, jauh dari keramaian, ga ada kemauan belajar, tiap hari nge- GAME. [masih untung dari pada terjerumus ke kehidupan yang ga jelas, pikirku]”

” Saya, pengen berubah mbak, tapi susah juga ya, klo dulunya bekas anak nakal.”

 

  Baca lebih lanjut