Tour.. 2# Cianjur

Cianjur…

Dari arah kota Bandung, melewati tol Cipularang yang membentang, akhirnya mengambil arah Cianjur, melewati wilayah Bandung selatan, jadi ingat lagunya bapak Ismail Marzuki, “Bandung selatan di waktu malam…” tapi kali itu aku melewatinya pagi hari, udaranya masih sejuk, pemandangannya pun tak banyak berubah dari beberapa tahun lalu, masih dihiasi gunung kapur. sempat terpikir mampir ke waduk saguling, tapi ga jadi… Mobil pun melambat saat melewati jembatan di atas sungai citarum… Subhanallah, indah… ” Klo diajak jalan ke tempat kayak gini, baru seru… ”  tapi hanya melihat dari kejauhan karena …”Uwa, acarana tos bade mulai ngantosan uwa,”  [pa’ de acaranya udah mau mulai nunggu pa’de dateng] . Ya kecepatan si plat merah pun dinaikan… diiringi lagu khas sunda dari Darso dan Doel Sumbang, salah satu tembang koleksi keluarga. [Duh, entahlah betapa cintanya si Abah sama lagu bernuansa khas sunda itu…]

Akhirnya sampe di Pasar Ciranjang, asli puanas banget ditambah jalanan yang rame ojek, angkot dan delman. Belok kiri dan sampelah di rumah Mang Pepen, langsung berganti kostum dengan pakaian resmi ‘jilbab kuning kunyit’ [kapan2 insyaAllah ku ceritakan pengalaman lain bersama jilbab itu… ada2 sajah memang..]. Masih acara penerimaan mempelai laki- laki. Setelah siap, bergegas menuju tempat akad nikah dilangsungkan… dan … lafal ijab qabul rupanya harus terulang 2 kali , ma’lum pertama kali sepertinya mempelai laki- laki grogi… dan akhirnya abah bilang “Syah… Syah..”. De, Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a baina kuma fi khair. Pangling paras adekku yang satu itu, wah subhanallah, Allahumma kamaa hasanta khalqi fa hassin khuluki…

Baca lebih lanjut

Tour..1# Djogja – BDG

Apa kabar? Yah, klo ada yang tanya kabarku hari ini [pede banget… ], maka jawaban pertama adalah pegel- pegel. Lumayan juga ternyata 3 hari 2 malem hampir 3/4 nya kuhabiskan di jalanan… [lebay..]. Setelah sebelumnya hampir setiap hari di pekan kemarin kuhabiskan sore bersama si Poly. Ngabuburit. Hari ini pun ke kampus bareng ma Poly, kasihan dy harus kutitipkan di t4 yang sempit di deket pos satpam, kena hujan pula! Djogja hari ini sejuk banget… Ya, sejak ‘penjaga’ [baca: kunci] si Poly hilang, sempet parno gitu, aku titpkan ia di deket pos satpam, ya itung2 di jagain… Belum lagi sandaran si poly yang patah, mengharuskan ku mencari tempat yang nyaman untuk nya ‘bersandar’.

Sepekan, setiap sore bersama si Poly, menyenangkan, Alhamdulillah selain cuci mata dan menyegarkan ‘sesuatu yang tak jelas itu ‘ itung- itung olah raga yang lumayan lama tertunda… Tapi kasian juga si Poly, kuajak keliling kampus ugm, jalan2 sore di Pogung, muter ke karang gayam, jalan2 sampe mirota bakan ke sekitar jalan terban… ato sekedar bolak- balik kampus lebih dari sekali… ah… Makasih poly… Ga terasa, karena jalan- jalan emang udah jadi bagian dari diri ato dengan kata lain aku hoby banget jalan- jalan [pake alat transportasi atau hanya beralasakan alas kali…]. Ga kerasa cape, hanya sedikit pegel2, ya… abis 2bulan KKN+ Ramadhan+ Libur, aku jarang ‘bermain’ bersama si Poly…

Ditambah weekend kemaren yang membuatku, berkunjung ke Kota Cianjur. Lumayan lama juga ga silaturahim ke Rumah Mang Pepen di sana, Alhamdulillah walimahan adek sepupu kemarin [25 Oktober 2008, Barakallahu laka] bisa menyaksikan akadnya…

Sabtu malam, setelah seharian yang penuh perjuangan hanya untuk sebuah tanda tangan…kulalui. Beres2 dulu kamar [katanya mo ada temen SMA yang kuliah di Solo, mo ikut nginep di kosn… kasian kan udah capek disajikan suasana kamar yang berantakan, buku A- Z dimana2…], sekitar jam8 malem, sms si ukhtiqu yang baik hati*, minta tolong anter ke TUGU, karena sanksi bisa dapet tiket Lodaya malem itu. Secara, si mba penjaga loket yang kutelpon sebelumnya bilang “maap mbak tiket KA apa pun malem ni udah habis terjual, ga ada kursi”. Tapi aku harus berangkat ke BDG malem ni, klo ga… ga bisa nyaksiin akadnya si ade.

Baca lebih lanjut

Novel T…

Dari sejak aku mulai mengenal huruf, sejak aku mulai bisa merangkai huruf menjadi sebuah kata dan untaian kalimat, sejak aku dikenalkan pada buku, sejak aku mulai senang menulis dan sejak aku beradzam menjadikan menulis menjadi bagian dari hidupku…. aku tetap lebih suka cerita non-fiksi, meskipun banyak cerita fiksi yang tak kalah bagus nya… tapi bagiku kisah yang terinspirasi dari kisah nyata lebih menarik hati. knapa? takkan ada kekecewaan karena itu hanya sebatas impian, obsesi atau harapan… juga ada sebuah keyakinan yang bisa dibilang nyata, karena realita nya pernah ada…

Dan ketika salah seorang teman mengsms… “Moy, masih pengen nulis novel yang terinspirasi dari kisah nyata?” maka jawabannya “ya.” “te insyaAllah bersedia klo moy mau nulis kisah tentang Te…”

Ya, beberapa waktu yang lalu, ketika beliau menceritakan “perjalanan” nya, maka sempat terbersit “aku akan menuliskannya” namun entah dalam format seperti apa… Mungkin sebuah novel… Ya bisa jadi. Saat ini memang masih dalam tahapan mimpi…

lalu… “nanti ditulisnya, insyaAllah klo ending episode 1-2 udah terjadi ya…” [hmm… hanya tertegun]…

Smoga Allah senantiasa memberkahi setiap perjalanan dan setiap pilihan yang kita ambil… Dan ending proses dari episode perjalanan 1 bukan lagi yang dinanti… Barakallah… Yup, tetep “Write for Change, Change the world with words…” with smartsholeha…. amiin.

Pagi, Dunia dalam Duniaku… [1]

Pagi yang cerah, dari jendela kamar pun terlihat cahayanya menyusup di dedaunan pohon mangga… Menambah cantiknya warna- warni pagi… Smoga hari ku juga secerah cahaya matahari, sekuat dan seikhlas matahari ketika memberikan sinarnya pada dunia. Tanpa keluhan, karena ia pun tak pernah mengeluh… Amiin… Allahu Akbar, Subhanallah, bertasbih (pada Nya) apa yang ada di langit dan di bumi…

Ditemani ”muhasabah cinta” nya edcoustic. Bisa dibilang aku menyukai beberapa lirik- lirik milik duo tersebut. [Ada yang suka juga?]. Tapi setiap kali aku mendengarkan setiap bait lirik nasyid mereka, yang terlintas adalah sebuah bayangan masa lalu dengan seluruh elemennya, termasuk orang- orang yang pernah ada di dalamnya. Dan setiap mengingatnya, aku merindukannya… Dan jika itu terjadi, maka salah satu saksinya ada tangis… Smoga Allah menyayangi mereka yang ikut menghiasi hari- hari itu, juga menyayangi nya… [Ternyata diri ini masih menyimpan memori itu baik- baik, meletakkannya di tempat yang jauh, namun tetap terlihat dan terlindungi, jadi ketika aku mencarinya aku dengan mudah bisa menemukannya…]

Dan…

Istiqomah itu ternyata tak mudah, ketika kita bertekad untuk istiqomah pun, selalu saja ada ujian, selalu saja ada kerikil, bahkan kerikil yang berupa pasir halus yang terkesan membuat jalan ini lurus- lurus saja tanpa cacat… tapi siapa sangka jika pasir halus itu licin dan membuat kita semakin mudah terjatuh lalu terpeleset…

Akan tertipu kah kita? Akan kah membuat kita merasa tetap berada di zona aman?

Berawal dari sebuah kelalaian, kita diarahkan untuk kembali memilih, kembali atau menikmatinya? Harus kembali!! Karena semakin kita menikmatinya maka semakin jauh kita dari Nya.

Lalai dari waktu semakin membuat ’waktu’ menjadi semakin tak berarti, padahal setiap detiknya tak akan pernah kembali… Yang terasa adalah waktu semakin cepat berlalu, terlewatkan begitu saja… Naudzubillah, smoga kita mampu mengisi setiap detiknya dengan amalan…

Lalai akan hal- hal kecil yang dulu tak pernah kita lakukan, karena kita anggap tak sesuai dengan hati nurani, tak sesuai dengan ajaran agama, tapi berawal dari sebuah pemakluman akan kesalahan kecil, maka bisa jadi suatu saat kita tak akan merasa salah atau berdosa jika melakukannya… Naudzubillah…

Lalai akan ibadah pada Nya, karena hawa nafsu… mungkin awalnya kita tetap merasa dekat dengan Nya, namun siapa sangka bahwa nyatanya semakin jauh dari Nya… Naudzubillah

Cukupkanlah Allah, untuk kita…

[dunia dalam dunia, terpisah namun tanpa sekat… menepi kembali…]

”Siapa yang mengingat Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam Diri-Ku dan siapa yang mengingat Ku dalam keramaian orang, maka Aku mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka”

[hadist qudsi, riwayat Ahmad]

Lalu Tersadar…

Pernah merasa bahwa ada yang sebuah perubahan dalam diri kita? Bisa ya bisa juga tidak, karena kita tak segera menyadari nya…

Pernahkah merasa bahwa kita melakukan apa yang tak biasa kita lakukan? Bisa ya bisa juga tidak, karena kita mungkin tak menyadari nya…

Pernahkah merasa bahwa kita tak menjadi diri kita sendiri? Ya sangat mungkin. Karena lagi- lagi kita tak sadar bahwa ada sebuah perubahan dalam diri kita, bahwa kita telah melakukan hal- hal yang tak biasa kita lakukan. Baik, jika perubahan itu ke arah kebaikan dan semakin membuat diri kita lebih dekat dengan Nya. Namun buruk dan akan sangat merugi jika kita malah semakin buruk dan terpuruk… Naudzubillah… Smoga Allah menjauhkan diri kita dari keterpurukan…

Menyadari apa yang terjadi pada diri kita bisa jadi salah satu cara muhasabah, sejauh mana kita melangkah, sejauh mana kita bertindak, sejauh mana kita berpikir lalu sejauh mana kita berubah? Smoga ketika tersadar kita tak berada dalam kondisi yang sama, apalagi lebih buruk…

Allah, ku yakin Engkau Maha Tahu berada dalam kondisi apakah diri sekarang? berada di bagian atas roda ataukah di dasar roda, yang ketika roda itu berputar aku tergilas, jika aku tak segera berpegangan pada jari- jari roda itu, maka aku mungkin juga akan tertinggal di jalanan… Naudzubillah…

Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami, kecuali karena rahmat dari Tuhanmu….” (Al-Isra’: 86-87)

“Rabbana laa tuzighquluubanaa ba’da idz hadaitana wa hablanaa min ladunka Rahmah…”

Segeralah tersadar, dalam posisi apakah diri ini?

Allah, jauhkan kami dari kelalaian yang berkepanjangan, hingga kami tak lagi mudah menyadari apa yang terjadi pada diri kami. Allah, bantu kami menyadari apapun yang ada pada diri kami, menyadari apapun perubahan yang terjadi pada diri kami, baik maupun buruk… Lalu, tersadarlah kami… Dan Tunjukilah kami pada jalan yang Kau ridhoi. Amiin…

“Biar saja Allah yang menyemangati kita, sehingga tanpa sadar tiap peristiwa menjadi teguran atas kelalaian kita… Cukup Allah saja yang memelihara ketekunan kita karena perhatian manusia kadang menghanyutkan keikhlasan… Smoga Allah menjadikan kita pribadi yang bermakna, pribadi yang saat berbaur mampu menyemangati yang lain dan saat sendiri mampu menguatkan dirinya sendiri….”
[sms]

AlhamduliLLah…Finally…

Alhamdulillah akhirnya hari ini datang juga, alhamdulillah akhirnya sidang ‘pendadaran’ skripsi sudah terlewati, alhamdulillah satu tahapan sudah ku lalui, meski meniti jalan yang tak lurus dan luas, episode penyusunan tugas akhir selama beberapa bulan pun selesai. Syukur ku pada Mu Rabb…

Alhamdulillah, hari ini… dinyatakan LULUS… ya Sarjana, insyaAllah… Tak ada kata yang mampu terucap selain Puji dan Syukur pada Mu, dan rasa tak percaya, bahwa tahapan itu baru saja ku lalui. Alhamdulillah…

Meskipun masih ada yang harus di revisi terkait beberapa hal, tapi kata orang itu wajar, ya sangat wajar dalam penyusunan tugas akhir, karena kita masih belajar… Esok harus lebih baik!!!  dan saatnya bersemangat untuk merevisi…

Teruntuk semua nya yang tak bisa disebutkan satu persatu… Jazakumullah khairan katsira… atas segala bantuannya, do’a, semangat dan lain- lain. Kalian bagian tak terpisahkan dari episode ini… InsyaAllah akan ada amanah baru yang menanti untuk dikerjakan. Karena setelah selesai urusan yang satu, maka akan ada urusan lain yang harus diselesaikan. Bahkan kata Ustadz Hasan Al Banna, “kewajiban yang kita miliki, lebih banyak dari waktu yang kita miliki”, Jadi bukan saatnya terlena dengan selesainya satu urusan, namun bersegera bergerak mengikuti putaran roda kehidupan yang lain, segera menyesuaikan diri dan nikmati serta syukuri yang ada di hadapan sekarang… Jika tidak maka bersiaplah terlindas oleh rotasi nya…

Ahhhh… Untaian kalimat yang sungguh mudah muncul dalam benak dan mengalir begitu saja lewat hentakan keyboard… Namun sepertinya tak semudah itu… “Mampukah diri ini melalui nya?”, Tawakkal ‘alaLLah… Saat ini beradzam untuk lebih baik lagi, beradzam untuktak lagi menunda dan santai… Bagaimana tidak? Karena perputaran ini semakin cepat, dan aku tak ingin tergilas… Smoga Allah selalu menuntunku berada di jalan yang diRidhoi Nya… amiin.

“wa man yattaqiLLaha yaj’aLLahu makhraja ” [dan barangsiapa yg bertaqwa pd Allah maka Dia akan menjadikan untuk nya jalan keluar…]

Smoga ilmu yang telah kudapat berkah hingga bisa semakin bermanfaat untuk hamba Nya yang lain… amiin…

katanya USA* itu rame…

Ceritanya kemaren salah satu sobat, yang udah kayak sodara sendiri dateng, ga ada angin ga ada ujan, tapi ada sebab kenapa ia harus melanglang buana ke kota gudeng ini… Nama panggilannya ‘Na’ [sebenarnya panggilan di genk kami bukan itu, tp kayaknya lebih simpel pake ‘Na’ aja…]

Kayak mimpi aja, ada Na di kamar, biasanya kan sekamar cuma sendiri, udah gitu penghuni asrama kami punya sedikit kesamaan ‘betah banget di kamar, klo udah ‘terjebak’ masuk kamar‘ jadi ya ga sering ngumpul klo emang ga ada kerjaan…

Namanya juga udah lama ga ketemu, hal yang pertama dilakukan adalah tukar cerita… nostalgilagia, cerita tentang mimpi dan rencana esok pasca berstatus mahasiswa S1 dan lain- lain… Dan seperti biasa klo kami udah ngumpul biasanya rame banget. [padahal cuma berdua, apalagi klo tim kami lengkap bertujuh…].

Reuni ‘emge‘ kemaren Na ga dateng karena masih acara mudik… jadi ya bener- bener tanya kabar- kabar terbaru, eee selama cerita ada beberapa hal yang kami simpulkan tentang cara komunikasi USA [baca: Urang Sunda Asli…]

Pertama, kata orang orang sunda itu ramah- ramah. Ehm… ya selain cara bicara nya bernada ato agak sedikit mendayu- dayu, jadi meskipun marah ato teriak2 dengan basa indonesia namun logat sunda, kadang ga kelihatan klo lagi marah… Apa iya?? Pas awal- awal di Djogja dan gaya bicara masih hampir 99% nyunda… dikira terlalu lembut dan centil dll… tapi sungguh insyaAllah gaya bicara kami memang bernada dan memiliki logatnya sendiri… klo dalam basa sunda… Kami punya ‘Lentong’‘ atau nada dalam bicara…

Kedua, orang sunda itu suka bikin candaan dari kata- kata [meskipun mungkin di daerah lain juga punya kebiasaan sama… tapi tetep aja ngerasa beda, btw beda? ato narsis? terserahlah…], pernah denger istilah CBCK? singkatan dari cek- cek bocek yang artinya mirip dengan ngobrol ngalor ngidul ga jelas arahnya, melebar kemana2… klo balakaceprut? yang itu artinya kata- kata becandaan… ato ada yang tau ato pernah baca “one teacher, one knowledge, dont disturb” artinya dalam basa sunda “saguru saelmu ulah ngaganggu” ato dalam basa indonesia “seguru seilmu jangan saling ganggu” aya- aya wae…

Jadi jangan kaget lagi klo ketemu orang sunda yang rame, mungkin si penulis juga bisa jadi termasuk salah satu dari yang tertulis di atas… He..he.. Ya itulah, yang ditulis cuma dua aja, lagian sebenarnya ga penting juga, cuma sekedar memancing jari untuk mengetik… Hatur nuhun udah bersedia mbaca…

*USA : Urang Sunda Asli