bljr!

Apa kabar Djogja? Aku hanya ingin menyapanya…

Di sini, aku mencoba beradaptasi kembali dengan semuanya… mengenal dan membuka kembali semua yang mungkin pernah tersimpan dalam memori sebelum diri ini hidup dalam kenyamanan versiku di Djogja. Hingga sekarang ketika sepotong episode itu baru saja kulalui dan kembali ke sini.  Karena belajar tak hanya berhenti sampai tadi namun sekarang, esok dan selamanya… Bersyukur, bersabar dan ikhlas itu lebih baik.

Bahkan untuk menjadi seorang pemimpin pun tetap belajar… Dan bukankah setiap diri kita adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, dan setiap kepemimpinan akan diminta pertanggung jawabannya ? Rasulullah SAW pernah berpesan … ” Belajarlah sebelum kalian menjadi pemimpin”. Maka tunggu apalagi? Saling mengingatkan dan menasehati… Belajar dan belajar!!

Smangat!!

si KomBu

Selama di Tasik dan si Lapy masih dalam masa penyembuhan dan diamanahkan pada seorang sodara ‘J’ maka sebuah komputer antik dan penuh kenangan milik adik laki- lakiku menjadi sasaran untuk senam jari. Perkenalkan namanya si Kombu. Kenapa namanya Kombu? Karena berupa komputer Pentium 4 yang semua aksesoris dari A – Z nya senada semua berwarna abu- abu. Outlook nya pun masih berfungsi dengan baik, bisa membuka leluasa semua kanvas [note. red] nya bahkan dengan kategori yang lebih banyak… Tapi kupilih hanya hijau ‘all bout me’, biru ‘yang tersimpan dan tak ingin terlupakan’, dan pink ‘sepotong hati bersama cintaku’ serta lembaran berwarna kuning.

Sabtu malam, untuk pertama kali memanggilnya “Kombu”, malam itu pula si Kombu menemaniku belajar soal2 CPNS. Dan selanjutnya mungkin si Kombu akan lebih sering dibangunkan dari tidur panjangnya… yang biasanya di ajak kerja rodi sama si aa, mpe pegel jari nya cuma buat nge game… dipaksa denger suara adikku yang pas2an sambil nyanyi diiringi gitar nya. nah insyaAllah sekarang si kombu mulai bersahabat dengan ku dengan smua tulisanku yang bebas tak jelas…

secara tidak langsung, jazakallah untuk my lovely brother yang udah bersedia meminjamkan si Kombu, dan afwan ya a’ udah ga izin memanggilnya Kombu…

barakallah…

Kaka Humaira- Mima Humairoh [?]

Ya, tak sembarang judul, dulu kakek bercita-cita ngasih nama Humairoh pada cucu perempuannya, nah maka cucu perempuan pertama lah yang jadi sasaran… Aku. Kakek berencana menyelipkan kata “Humairoh” panggilan sayang Rasulullah pada Aisyah itu. Namun entah kenapa gak jadi… Jadilah namaku seperti sekarang, tanpa humairoh, namun kakek menyimpan harapan itu padaku dan semua cucu perempuannya. Salah satu alasan ga jadi, karena kedua ortu sudah menyiapkan nama. Alasan kedua dari tante [mamahnya kaka. red], humairoh kelihatan agak gimana gitu, dulu belum kepikiran humairoh bisa diubah jadi humaira kali ya… toh pada akhirnya dari semua cucu perempuan kakek, akhirnya kata humairoh yang ‘diremajakan’ [menurut versi tante…] menjadi ‘humaira’ menghiasi rangkaian nama kaka [cucu perempuan bungsu kakek], diamanahkan dan diselipkan dalam do’a setiap orang yang memanggilnya. Maka itulah alasannya kenapa, Mima Humairoh, Kaka Humaira… [?]

Hmmm…Setelah cukup lama tak rutin menemani kaka belajar ngaji, belajar baca tulis latin atau sekedar menemani hafalan surat pendek sambil sholat… Ditambah entah berapa lama aku tak menemaninya ‘bercerita’ sebelum tidur ato berlama2 di depan CD interaktifnya yang selalu ia tagih ke mamanya sebelum jam tidur, kemarin selama 4 hari di Djogja, berkesempatan menemaninya… Mengingatkan kebersamaannya selama kurang lebih 4 tahun…

Ah, kaka… Maafkan mima, ketika kemarin cukup disibukkan si Kripsi, hampir tak ada lagi jalan- jalan ke karang wuni. Ketika kemarin disibukkan dengan revisi maka sore pun tak sempat sekedar cari jajanan sore sambil belanja jajanan gorengan mbah2 deket bungo palo…

Lagi, bahkan mima tak ingat kapan terakhir kita main berdua ke Gramedia ato mengantarmu sekolah. Seingat mima, terakhir menemani mu mandi bola di Tasik dan ternyata kaka ga lagi sesenang dulu pas mandi bola, kaka lebih senang duduk berjam2 untuk melukis patung putri ato menempel pasir… Kaka, bukan balita lagi…

Baca lebih lanjut

ke Djogja Pasca Wisuda… 1#

Alhamdulillah diberi kesempatan berkunjung ke Djogja setelah liburan seminggu di Tasik… Djogja makin terik. Belum terasa bedanya ketika aku mengunjungi Djogja pasca wisuda, biasa saja, mungkin salah satu perbedaan yang membuatku tersadar bukan mahasiswa S1 Kampus biru adalah ketika:

  • ketemu teman2, adek kelas ato sodara2 yang tau udah lulus trus mengucapakan selamat dan barakaLLah, amiin smoga ilmu yang diperoleh membawa keberkahan dan bermanfaat untuk kemaslahatan diri dan sekitar ku… dan smoga apa yang dilakukan mendapat ridho Nya…
  • ga punya hak pilih PEMIRA di kampus… klo yang ini mah ya gimana, kata seorang sodara ” bantu dengan do’a ajah ya moy…”
  • Ga punya hak lagi dapet jatah GMC ato SIC  [meskipun boleh aja klo gak ketahuan toh udah bayar mpe Februari koq]…
  • Ga Punya kamar Kosn… Kamar yang selama lebih dari 3 tahun menjadi tempat paling bersahabat dengan ku. ma’lum selama di Djogja ga pernah pindah kosn, cuma sempat pindah kamar sekali aja, dan itu karena kamar lama mau di renovasi… Sedih juga, lihat kamar itu hanya berisi tumpukan kardus2 barang2 yang belum di bawa ke Tasik…

yah mungkin itu hanya salah satu dari beberapa hal yang kuingat…

Selama 4 hari di Djogja kusempatkan untuk menyelesaikan beberapa hal yang tertunda.

Baca lebih lanjut