Nurani 1#

Bertanyalah pada hatimu. Mungkin kalimat anjuran itu seringkali kita dengarkan, ketika dihadapkan pada sebuah pilihan atau sebuah masalah dan yang mampu memilih atau menyelesaikannya dietentukan oleh diri kita dan DIA. Ada apa dengan hati? Karena tak ada yang lebih jernih dari suara hati dan karena setiap manusia memiliki hati. Iman pun ada di hati. Dan hati selalu berbisik, membisikan suatu kebenaran…

“Mintalah fatwa kepada hatimu. kebaikan itu adalah apa- apa yang tentram jiwa padanya dan tentram pula dalam hati. dan dosa adalah apa-apa yang ragu dalam jiwa dan ragu dalam hati, meski orang- orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkanmu” [HR. Muslim]

Dan hadirkan Allah dalam setiap tarikan nafas dan aktifitas… Smoga slalu bisa… amiin.

Darmawanita

Hari ini dapet undangan Darmawanita. Yah salah satu komunitas sekaligus kegiatan baru sebulan sekali. Jadi anggota paling muda, di bawah umur mungkin untuk seorang anggota Darmawanita. Ga ada seragam. Pake baju bebas sopan rapi aja. Acara di undangan mulai jam 9, tapi mulai baru sekitar jam10.30n. Maklum lah [sebuah pemakluman lagi] karena yang diundang adalah para ibu yang jam segitu biasanya nunggu anaknya pulang sekolah dulu, ato mungkin masih ngajar, masak, nyiapin kebutuhan anak yang masih kecil dan lain-lain. Baru ada 3 orang pas masuk ke Aula Kantor.

Hari ini pertemuan kedua dengan ibu Kepala Dinas yang baru. Kali pertama pas acara Pisah Sambut. Acaranya santai dengan peserta tak lebih dari 15 orang. Ah pengalaman kedua ikut pertemuan ibu- ibu darmawanita. Masih ngerasa aneh dan ga biasa [lebih tepatnya merasa masih muda ato remaja?], tapi harus mulai dibiasakan… Bukankah begitu,a? Masih dalam tahap adaptasi… Smoga bisa lebih terbiasa. Saat ini mungkin sebatas itu saja. Menjadi pemerhati dan diam yang bukan berarti tak bergerak… Karena yang tak mengeluarkan suara itu hanya mulut, tapi otak masih bisa untuk terus berpikir… hati masih bisa berbicara dengan nurani.

Bersikaplah biasa dan lebih dewasa. Belajarlah untuk ga hanya jadi pengamat dan penikmat tapi memberi dan memerankan sesuatu. Tak ada alasan ga siap bukan? Karena ini telah dipilih. InsyaAllah bisa dengan belajar… Yakin…

“Diperlukan suatu hentakan yakin, yang akan melahirkan keberanian, keteguhan dan kesabaran, bertolak dari jaminan yang tak pernah lapuk. [Ust. Rahmat ‘Abdullah]

Rabu Bersama si Ukhty

Sepulang pertemuan keluarga kecil hari Rabu di rumah salah seorang ummahat muda, tiba- tiba di ajak seorang ukhti untuk bertemu dengan salah satu pejabat kota Tasik, sebutlah pak Wakil Walikota. ”Presentasi, moy!!” Yah panggilan itu ternyata kembali familiar di telinga, sebuah komunitas alumni kembali memanggil dengan sebutan itu, hanya orang- orang tertentu saja seperti biasa. Akhirnya setelah minta izin pada beliau, diriku dan si ukhti periang itu menuju rumahnya di Cilolohan, ambil helm… ”Jaga2 klo-klo di cegat polisi di jalan karena tanpa helm.” Bersama si Pinky… [Maaf aku memanggil motor pink nya dengan si Pinky, tak ada ide lain…], rute perjalanan kami Cicariang- Nagrog- Perum Batara- Cilolohan- Brigif- Cikalang- Jln. Laswi- Jln. TMP- Sutsen- Alun2- Dokar- Jln. Galunggung – Jln. Mitra Batik [disini mampir di rumah design seorang akhwat, tadinya hanya diantar sampe sini tapi ternyata t’ Eva menemani t’ Melin naek Angkot menuju Balai Kota dan aku serat t’Ahda kembali meneruskan perjalanan ]- RE. Martadinata- H. Juanda- Jln. Letnan Harun- Balai Kota. [Rute terpanjang katanya, secara kami berdua sama- sama baru kembali dari perantauan selam sekitar 5 tahun…Ah Tasik, kami kembali… begitu katanya.]

Masuk ke lingkungan balai kota, tiba- tiba ban motor si Pinky bocor dan kami mulai menuntun menuju parkiran. Selanjutnya masuklah ke wilayah kantor pejabat kota ini. ”Mau ketemu sapa, neng?” Kami pun menyampaikan maksud untuk bertemu dengan pak Wakil Walikota jam 1 siang di ruangannya. ”Dari IQRA Club…” Kami pun diantar menuju sebuah ruangan yang terhitung lengkap dan nyaman untuk sebuah ruang kerja, harum, rapi, tertata rapi, ada sebuah kulkas, di meja ada jeruk mini, dua buah toples permen, sepuluh buah minuman gelas kemasan, empat toples kue dan camilan lain. Sofa hitam besar di tengah ruangan, di samping meja rapat dan terpampang foto SBY dan JK serta pemimpin pemerintahan di tanah sunda, Ahmad Heryawan dan wakilnya.

Kami ber-6 disambut cukup hangat dan sempat mencuri perhatian para karyawan beliau, entah dari apa… Selanjutnya obrolan pun berlanjut tentang IQRA club yang akan mengadakan acara di halaman balai kota. Dua jam kami berada di ruangan beliau membicarakan dari A s.d Z [eh sebelum huruf Z, kami sudah berhenti… tepatnya bukan kami yang menjadi juru bicara tapi Pak Tino, sesepuh IQRA Club…]. Tentang pembicaraan akan diceritakan di bagian tulisan yang lain…

Baca lebih lanjut

tulisduluajah…

Rencana mo ngeBlog tapi waktu menunjukan pukul 8.20 wib [waktu indonesia bagian kombu…], harus mengantar proposal ke Telkomsel dan bertemu manajer marketingnya…  mampir ke kampus kuning merah di marta, tak lupa menghubungi “sang pemimpi”… Bismillah!!

Terus merajut mimpi dan cita di laboratorium ku… Smangat!!

Jadilah hanya menulis ini sajah dan memposting tulisan beberapa hari yang lalu…

Apa yg kamu lakukan hari ini?

Judul tulisan ini mengingatkanku pada tulisan di tembok Asrama Putri no 14… Kamar inspirasiku… Dulu. Dulu sengaja nempel tulisan itu gede2 di hampir setiap sudut kamar. Di tembok sebelah kiri tempat tidur, di lemari baju  yang jalan mo ke kamar mandi [jadi pas buka lemari baju ada tulisan itu…], di meja belajar [pas buka laptop ato sekedar baca buku ada tulisan itu…], di tempat buku, di cermin dekat TV ato di meja tempat berkas2 lusuh… Tujuan awal tulisan itu hanya untuk mengingatkan diriku yang emang pelupa “Apa yang telah dilakukan hari ini?” Dan hasilnya alhamdulillah cukup membantu.

Dan tulisan itu kembali muncul ketika akhir- akhir ini cukup banyak waktu luang. [secara belum ada agenda tetap…] . Ada sebuah ketakutan tesendiri ketika waktu yang ada belum mampu dioptimalkan. Maka “Apa yang kau lakukan hari ini? Bermanfaatkah untuk orang lain?” Entahlah apakah menulis ini pun sebuah kegiatan yang efektif dan bermanfaat? pikirku, daripada tak melakukan apa- apa. Hanya melakukan apa yang bisa dilakukan. Tepatnya hanya menyalurkan hobi saja.

Suatu hari sepulang kerja beliau pernah tanya “kesel ga di rumah seharian? ngapain aja? Cari kegiatan di luar aja klo misale bosan…” Ada sebuah nada kekhawatiran klo bosan seharian di rumah. InsyaAllah tak ada yang membosankan klo misalnya melakukan suatu kegiatan yang memang disukai dan dinikmati.  Mencoba mengerjakan hoby, menulis dan membaca buku yang dulu ketika kuliah harus mencuri waktu kuliah dan belajar dengan buku statistik untuk membacanya, mencuri waktu mengerjakan skripsi hanya untuk menulis/ mengetik sebuah cerita ato tulisan lepas dan kegiatan lainnya…Ah… Smoga tak menjadi pencuri waktu… Apalagi melakukan pencurian eksistensi… Apalah itu aku tak ingin dianggap pencuri waktu.

Baca lebih lanjut

Mengajar dan Belajar…

Alhamdulillah. Setelah sebelumnya posting tentang seorang Dosen Pembimbing yang sangat berkesan. Sepertinya postingan kali ini masih terkait dengan profesi tersebut. Dosen. Pengajar. Yah, saat ini aku lebih senang menggunakan kata ‘pengajar’ daripada dosen. Tapi bukankah kata itu cukup membanggakan? Benar, tapi tidak saat ini. Belum pantas rasanya. Sungguh, smoga tak mengurangi kesyukuran ku tentang profesi tersebut. Tapi bukankah itu salah satu cita- cita mu? Tepat.

Alhamdulillah. Hanya itu yang mampu kuucapkan sebagai rasa kesyukuran yang masih belum jelas harus kuungkapkan seperti apa. Allah ku yakin, Kau Maha Tau isi hati ini. InsyaAllah ada sebuah amanah baru untuk ku, mendapat kesempatan mengajar mata kuliah statistika di sebuah Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer di Kota Kecilku. Entahlah seingatku sudah cukup lama aku tertarik dengan kampus berwarna dominan kuning dan merah itu. Kampusnya tak sebesar Kampus Biru kita, tak seluas dan tak seterkenal kampus biru kita. Hanya sebuah kampus kecil di sudut kota Tasikmalaya. Lalu apa yang membuatku tertarik? Entahlah. Warnanya yang mencolok mungkin. Atau lokasinya yang tak jauh dari rumahku dan kantor beliau. Bisa jadi itu salah satunya.

”Tak banyak yang bisa dibanggakan dengan kampus ini, jika dibandingkan dengan kampus ibu dulu…”kata seorang ketua jurusan Teknik Informatika.

”Kampus ini tak sehebat kampus ibu, apalagi mahasiswa nya yang secerdas kampus ibu… Jangan terlalu banyak berharap dengan kampus ini, ini kampus swasta yang bisa jadi mahasiswa tak merasa butuh dengan kuliah… yang penting mereka bisa lulus saja sudah untung…” lanjut seorang pengajar lain.

”Betul, butuh kesabaran mengajar di sini bu… Mahasiswa yang luar biasa apalagi saat mengajar di kelas karyawan…” seorang tenaga pengajar lain berkata.

”Dan honornya…”

Baca lebih lanjut

DPSku, Apa Kabar?

Bagi mahasiswa tingkat akhir, yang sedang merasa tingkat akhir atau yang pura- pura ga ngerasa ko dia udah tingkat akhir, singkatan DPS pasti udah ga asing lagi. Dosen Pembimbing Skripsi. Sepotong kisah bersama DPS ku ternyata kembali dihadirkan. Hikmahnya yang paling sederhana, mengingatkan klo ternyata diri ini udah lulus kuliah. Ya iya lah, karena episode bersama si Kripsi dan DPS ku telah kurampungkan jadi satu cerita.

Beberapa hari yang lalu beliau sms… “Irma apa kabar. Slmat menempuh hidup bru.tinggal dimana skrang. mudah2 an lncr. salam tuk suami.”  Seperti biasa sms kalimat tanya tanpa tanda tanya, singkat namun padat. Bu, malu rasanya ibu mendahului meng SMSku… Hfff…

Yang aku salut dari beliau adalah kesederhanaannya. Dari ketegasan dan keibuan beliau. Dan yang pasti dari kemampuan statistika beliau. Beliau DPS, DPA sekaligus sosok ibu untuk mahasiswanya. Ah ibu, banyak hal yang belum terlunasi pada ibu. Tentang masalah yang pernah ibu ceritakan pada ku, tentang kekecewaan mu pada seorang yang teramat kau cintai, tentang kekesalan mu pada seorang anak laki- laki yang ternyata teman lamaku, tentang kasih sayang mu pada dua orang mutiara di rumahmu, tentang harapan- harapan mu dan air mata yang pernah ku lihat saat berdiskusi dengan mu. Ibu, apa kabar???

Baca lebih lanjut