UN dan Idealisme

Entah sejak berapa tahun terakhir, Ujian Nasional telah diracuni oleh idealisme tak bertanggung jawab, kesuksesan sesaat dan hal lain yang membuat warna Ujian Nasional berubah menjadi abu- abu bahkan hitam.

Seingatku, dulu tak begitu. Sekarang kelulusan mungkin hanya menjadi kebanggaan segelintir orang saja yang melakukannya dengan sungguh- sungguh, lalu sisanya? Tersenyum separo antara kebahagiaan dan rasa malu yang menyisakan penyesalan… Bahkan pergeseran karakter di masa yang akan datang.

Kecewa. Tapi katanya itulah budaya sekarang. Sebuah tuntutan zaman katanya. Ada pula yang mengatas namakan kebaikan? Zaman yang mana? Zaman yang menginginkan kehancuran akhlak? Naudzubillah… Kebaikan yang mana? Kebaikan siapa? Sampai kapan? Tak sepenuhnya salah anak- anak, bisa jadi salah pendidik. Idealisme sekolah atau idealisme pendidikan?

Klo boleh usul, sepertinya tak perlu mengejar idealisme ingin seperti bangsa lain dengan penilaian kuantitatif bagus tapi menghalalkan segala cara. Tapi perhatikan kualitas, seluruh aspek kualitas, sejauh mana pemerintah ini melayani dan memberi… maka hasilnya insyaAllah tak jauh dari yang ia usahakan. Jika ditingkatan anak- anak saja berani berbuat curang berani berbohong pada dirinya sendiri, lalu apa yang terjadi suatu saat mereka dewasa menjadi penyokong dan pemimpin bangsa ini?

Miris rasanya… Ketika sebuah karakter serta akhlakul karimah yang menempel pada diri mereka tergadai oleh kesuksesan sesaat??? Wallahu’alam…

u/ Nabila AF (Bia) dan Camila Zahra (Zahra), met UN semoga Allah memudahkan kalian, meridhoi usaha kalian, biarkan Dia bekerja, setelah usaha dan do’a… Lalu tawakal dan Ikhlaskan semuanya… Smangat!!

belajar mengajar

Salah satu agenda rutin pekanan bertambah sejak 16 maret lalu, mengajar dua mata kuliah, statitika dan kalkulus. 3 kelas untuk statitika dan 2 kelas kalkulus. Dan ternyata mengajar itu tak mudah… Apalagi mengajar sejumlah orang dalam kelas besar dengan berbagai karakter dan bukan anak kecil lagi, seharusnya. Satu hal untuk membuatnya terasa lebih mudah adalah menjadikannya menyenangkan dan luruskan niat. Bukankah begitu?

Tapi itu pun ternyata tak mudah, mencoba untuk mengikhlaskan semuanya, itu yang lebih baik, katanya… Maka mencoba menjalaninya mengalir seperti air sungai, menuju muara dan laut… Tak sekedar mengalir, tapi jelas air sungai ini punya tujuan…

Dua hari sepekan, membersamai mereka di kampus… mencoba tak sekedar hanya mentransfer materi kuliah yang mungkin hanya sekadarnya tapi berusaha untuk tak hanya itu. Bismillah, mencoba mencintai aktifitas ini… Smoga Allah ridho.

“para pecinta sejati tak suka berjanji, tapi begitu mereka memutuskan untuk mencintai, mereka akan segera membuat rencana untuk memberi…” [M. Anis Matta]