ART

Sudah lebih dari tiga pekan tanpa ART, akhirnya bocils dititipkan d neneknya. Dilematis. Tak ingin merepotkan karena sudah cukup merepotkan beliau di usianya yang tak lagi muda. Punten mah.. Tapi lagi-lagi dengan berat hati neneknya menjadi pilihan utama menitipkan buah hati. Maka sejak gari itu, mengungsilah kami. Sepekan, maa d repotkan, sepekan pula rumah ditinggalkan. Kekacauan d rumah karena ulah tikus, tuppy pun habis digigitnya, pintu bolong-bolong dimana-mana, pipa saluran cuci piring ikut menjadi santapannya. Belum lagi kamar tidut san lemari yang berganti tuan. MasyaAllah.

Dua pekan, semakin banyak menelan korban tuppy dan barang-barang lain. Tiga pekan, semakin banyak lagi. Ditambah dengan perasaan yang semakin tak nyaman, karena malah merepotkan beliau. Punten mah.. 

Jadwal masuk dan pulang kantor pun tak tentu, bukan tak ada jadwal tapi apa daya. Rutinitas sehari-hari ditanggung sendiri (baca: berdua denganmu). Hikmahnya, kami semakin terbiasa mandiri. Nikmatnya, karena hampir setiap pekerjaan dibagi berdua, termasuk urusan setrikaan yang balapan ambil pakaian yang kecil dan ringan, yang belakangan, dengan lapang dada menggosok pakaian yang lebih besar.

Lelah, tapi tetap harus semangat, ingat! Tak ada energi sisa untuk mereka dua pasang mata mungil yang dengan sabar menunggu kedatangan, merelakan waktunya bersama “superhero” nya.

ART, dua sisi mata uang bagi ibu bekerja dengan batita, balita ataupun beranjak dewasa. ART selalu sukses membuat dunia ibu bekerja jungkir balik. MasyaAllah, smoga Allah memudahkan dalam urusan ini. Amiin.