sementara tak lagi ngampus

Hari ini ada rapat dosen yang biasanya setiap pergantian semester ku ikuti… Tapi tidak untuk hari ini. Hari ini menemani Kiani di rumah. Bukan itu alasannya, tapi karena insyaAllah semester depan dan semester selanjutnya tak lagi mengabdi di kampus itu. Kampus yang menjadi bagian rutinitasku selama kurang lebih 2 tahun, kampus yang mengajari ku kesabaran, kampus yang terkadang memancing ku untuk mengeluh dan pastinya kampus yang memberikan kesempatan pertama untuk menjadi seorang pengajar. Ah ya, kampus yang mungkin tak se-hebat dan se-top kampus ku dulu, tapi setidaknya aku mencoba berbagi di kampus ini… Bahkan aku merasa belum optimal berkontribusi di sini… Tapi ya sudahlah, setidaknya sudah kuusahakan semampuku…Maaf.

Alasannya sederhana. Ada yang lain selain kampus itu. Kota metro itu insyaAllah akan menjadi bagian dari daftar kota yang pernah aku kunjungi. Aku [telah] memilihnya.

Ah, mahasiswa- mahasiswa itu mungkin akan kurindukan, kenakalan, tugas- tugas di tumpukan folio, pemakluman untuk tak masuk atau sekedar mengerjakan tugas, curhatan ala remaja dan tentang mereka semua mungkin akan kurindukan juga. Dan aku akan merindukan berdiri di depan kelas untuk sekedar berbagi atau bahkan hanya bercerita ngalor ngidul…

Maaf. Maaf. Maaf. Jika ibu tak seperti yang kalian harapkan. Karena ibu juga manusia. Maaf jika soal- soal ibu terlalu sulit atau terlalu mudah… Atau nilai yang tak sesuai. Smoga kita menjad lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain, karena kita punya potensi untuk itu…

-STMIKTasikmalayawithKalkulus,StatistiknLogika Matematika-

Iklan

Mengulang Sejarah

Benarkah sejarah itu bisa terjadi lagi? Ini bukan tentang pelajaran sejarah yang rumit. Hanya sebuah cerita sederhana saja. Mamah adalah cucu kesayangan yayut [panggilan untuk ibunya nenek] dan aku merasa bisa bebas bercerita pada mimih dari pada mamah. Dan Kiani?

Aku berharap ia lebih dekat pada ku dan abahnya. Memang tak ada yang salah klo seorang anak lebih dekat pada nenek/ kakek nya, tapi wajar bukan jika seorang ibu ingin anaknya lebih dekat padanya dibanding dengan orang lain. Seorang ibu berharap bisa menjadi orang tua, sahabat dan guru sekaligus. Perfecto!! Ah ya, aku sedang dalam proses itu sekarang. Menjadi seorang ibu memang tak mudah. Mamah, nuhun tos ngadidik neng janten jalmi sapertos ayeuna.

Aku bukan siapa- siapa, hanya seorang anak biasa yang sedang belajar menjadi seorang istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak- anakku. Sebuah proyek masa depan yang panjang dan kontinu. Yang kita tanam maka itulah yang akan kita panen esok hari. Proses belajar sepanjang masa yang tak habis dimakan usia. Didikan mamah dan papah dulu menjadikan aku yang sekarang. baiklah, minimal sama dan semoga bisa lebih baik. Memang tak 100% karena dalam perjalanan ada banyak faktor yang mempengaruhinya, termasuk lingkungan lain di luar rumah.

Allah, jadikan aku seorang anak yang mensyukuri nikmatnya menjadi seorang anak, jadikan aku istri yang slalu bersyukur dan berkhidmat atas nikmatnya mendampingi suami dan jadikan aku ibu yang bersyukur dan memahami hakikat seorang ibu… serta jadikan aku hamba Mu yang slalu berusaha menjadi hamba yang Kau inginkan bagian dari orang- orang sholeh/a… amiin.

r e f l e k s – – – – r e f l e k s i

Hanya sedang membayangkan apa yang pertama kali dilakukan ketika tiba- tiba pasukan israel datang mengepung kita??? Yang pada saat itu kita sedang dalam keadaan santai tanpa senjata.

Gerakan refleks seperti apa yang akan kita lakukan? Mencari tempat persembunyian lalu sembunyi dan hanya berdiam diri atau berani menghadapi pasukan tersebut mengikuti ‘intifadha’ atau apa? Berdo’a semoga jika dihadapkan pada keadaan seperti itu bisa berpikir jernih dan tidak melakukan hal ‘ bodoh’…

Gerak refleks salah satu bagian dari akhlak kita. Lalu akhlak? Bukankah ia cerminan dari keimanan dan akidah? Nah jika demikian maka ia juga bisa merefleksikan siapa diri kita… Astaghfirullah…

Mungkin terlalu berandai- andai jika dihadapkan pada saat pengepungan israel di Gaza. Sederhana saja apa yang akan keluar dari lisan kita ketika tersandung batu? Atau ketika melihat seorang nenek renta mengais sampah?

Rabb yang Maha membolak- balikan hati… Tetapkanlah hati ini untuk slalu mengingat Mu setiap saat. Hingga diri ini mampu berpikir jernih karena Mu. Berikanlah yang terbaik untuk saudara- saudara kami di Gaza sana…

Ensiklopedi Pencuri

Rabu kemarin seperti biasa, ada agenda yang sudah mulai mengisi jadwal rutin pekanan ku, salah satu agenda yang slalu mengingatkan ku tentang jum’at siang ato sabtu pagi di kamar 14 Wisma Cakra Kembang. Apa kabar kalian? Meskipun kehadiranku masih dibilang ’penyelundup’ tapi tak apa. Ummi, jazakillah khoir sudah menerima ketidak legalan ku dalam forum pekanan mu…

Yah. Rabu itu alhamdulillah setelah sekian lama akhirnya bisa mampir [lebih dari ½ jam] ke sebuah toko buku… Bayangan pun menerawang ke wilayah sayap utara Masjid Kampus atau toko buku di Djogja… Ya bisa dibilang toko buku ini adalah salah satu toko buku [diskon] yang bukunya cukup lengkap di kota Tasik ini. Bersama seorang ukhti [teh, sepertinya Allah mempertemukan kita lagi dalam satu forum, aku mulai belajar dari mu lagi… ], akhirnya sampe di daerah Cilolohan, dekat sekolah Perawat… Subhanallah, kami disambut dengan ramah oleh seorang ummahat dan suaminya, setelahnya kami pun dipersilakan untuk menjelajahi seluruh rak di toko beliau. Satu lagi, kami pun disuguhi es lilin rasa jeruk [kelihatan dari warna nya orangenya] dan camilan lainnya.. ”Mangga neng, dicobian, teu kedah isin2…” [silakan dicicip ga usah malu- malu. ir].

Dan buku yang di cari akhirnya ditemukan… Serial Cinta –nya Ust. Anis Matta. Rencananya Cuma beli buku itu aja dan si teteh menemukan sebuah buku… tulisannya Yusuf Qardhawi tentang cerita beliau bersama jamaah IM. Hmm… tak berhenti disana, kami masih asyik menjelajah seluruh rak buku, ngasih komentar- komentar dan akhirnya sebuah buku mengedipkan matanya… Ah… Ensiklopedi Pencuri??? [Ada yang udah baca?] Buku dengan judul buku sederhana tapi entahlah knapa aku cukup tertarik dengan judul dan materinya… Ada sebuah pertanyaan di wajah buku itu…”Yakinkah anda bukan Pencuri?”.

Yah… Maka pertanyaan itu pula yang membuatku berfikir… ”Jangan- jangan aku seorang pencuri?”, jangan-jangan aku telah mencuri sesuatu yang bukan hak ku? Jangan … jangan… dan jangan sampe aku termasuk salah satu golongan dari pencuri… Akhirnya kuputuskan mengambil jatah untuk Ensiklopedi Pencuri. Buku mungil itu pun ikut bersama Serial Cinta ke Tas Coklat ku…

Apakah aku seorang Pencuri??? Astaghfirullah…

Nah ini resensi yang entah bisa dibilang resensi atau ga… tentang Ensiklopedi Pencuri… Buku ini berisi tentang beberapa jenis pencurian dari sesuatu yang dicurinya tampak atau pun abstrak, namun tetap saja si pencuri NYATA mencuri sesuatu yang bukan miliknya… Dan jenis- jenis pencuri itu, diantaranya… pencuri waktu, pencuri penampilan, pencuri hasil karya, pencuri jabatan, pencuri dosa, pencuri wanita, pencuri privasi dan pencuri jalanan… Namun pencurian yang paling berbahaya adalah pencurian eksistensi…

Maka apakah kita termasuk pencuri???

Pagi, Dunia dalam Duniaku… [1]

Pagi yang cerah, dari jendela kamar pun terlihat cahayanya menyusup di dedaunan pohon mangga… Menambah cantiknya warna- warni pagi… Smoga hari ku juga secerah cahaya matahari, sekuat dan seikhlas matahari ketika memberikan sinarnya pada dunia. Tanpa keluhan, karena ia pun tak pernah mengeluh… Amiin… Allahu Akbar, Subhanallah, bertasbih (pada Nya) apa yang ada di langit dan di bumi…

Ditemani ”muhasabah cinta” nya edcoustic. Bisa dibilang aku menyukai beberapa lirik- lirik milik duo tersebut. [Ada yang suka juga?]. Tapi setiap kali aku mendengarkan setiap bait lirik nasyid mereka, yang terlintas adalah sebuah bayangan masa lalu dengan seluruh elemennya, termasuk orang- orang yang pernah ada di dalamnya. Dan setiap mengingatnya, aku merindukannya… Dan jika itu terjadi, maka salah satu saksinya ada tangis… Smoga Allah menyayangi mereka yang ikut menghiasi hari- hari itu, juga menyayangi nya… [Ternyata diri ini masih menyimpan memori itu baik- baik, meletakkannya di tempat yang jauh, namun tetap terlihat dan terlindungi, jadi ketika aku mencarinya aku dengan mudah bisa menemukannya…]

Dan…

Istiqomah itu ternyata tak mudah, ketika kita bertekad untuk istiqomah pun, selalu saja ada ujian, selalu saja ada kerikil, bahkan kerikil yang berupa pasir halus yang terkesan membuat jalan ini lurus- lurus saja tanpa cacat… tapi siapa sangka jika pasir halus itu licin dan membuat kita semakin mudah terjatuh lalu terpeleset…

Akan tertipu kah kita? Akan kah membuat kita merasa tetap berada di zona aman?

Berawal dari sebuah kelalaian, kita diarahkan untuk kembali memilih, kembali atau menikmatinya? Harus kembali!! Karena semakin kita menikmatinya maka semakin jauh kita dari Nya.

Lalai dari waktu semakin membuat ’waktu’ menjadi semakin tak berarti, padahal setiap detiknya tak akan pernah kembali… Yang terasa adalah waktu semakin cepat berlalu, terlewatkan begitu saja… Naudzubillah, smoga kita mampu mengisi setiap detiknya dengan amalan…

Lalai akan hal- hal kecil yang dulu tak pernah kita lakukan, karena kita anggap tak sesuai dengan hati nurani, tak sesuai dengan ajaran agama, tapi berawal dari sebuah pemakluman akan kesalahan kecil, maka bisa jadi suatu saat kita tak akan merasa salah atau berdosa jika melakukannya… Naudzubillah…

Lalai akan ibadah pada Nya, karena hawa nafsu… mungkin awalnya kita tetap merasa dekat dengan Nya, namun siapa sangka bahwa nyatanya semakin jauh dari Nya… Naudzubillah

Cukupkanlah Allah, untuk kita…

[dunia dalam dunia, terpisah namun tanpa sekat… menepi kembali…]

”Siapa yang mengingat Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam Diri-Ku dan siapa yang mengingat Ku dalam keramaian orang, maka Aku mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka”

[hadist qudsi, riwayat Ahmad]

Pemuda di Lodaya

Senin malam pekan kemaren , berkenalan dengan beberapa orang, salah satunya seorang pemuda yang tubuhnya cukup kurus [menurut ukuranku], tinggi, gaya pemuda masa kini dengan kaos oblong dan celana tujuhperdelapan, HP n- gage yang selalu dimainkannya. Dia duduk di sebelahku, setelah sebelumnya kursinya di ’pinjam’ seorang ibu yang merasa kurang nyaman duduk berlawanan arah dengan arah Lodaya Malam yang membawa kami Djogja – Bandung.

 Seingatku lebih dari 3 kali ia mondar mandir ke gang kereta, untuk sebuah rokok. Jangan sampe deh, ia merokok di sebelahku, suasana yang sudah terbayang kurang nyaman, waktu istirahat malam ditemani asap rokok. TIDAK! Untung tuh pemuda ngerti juga. Alhamdulillah..

 Percakapan kami pun dimulai, mencoba untuk tetap terjaga. Hampir tengah malam.Tiba- tiba, ” Mba, bisa minta tolong, ganti sim- card di HP ini? HP baru soale.” HP model anyar, ku otak- atik dan Yup! Simcard M3 pun mulai terpasang. Aktif. “Oya, tau server indosat, M3 mba error, ga bisa buka yahoo!”.

” Mba, kuliah di UGM ya? Jurusan apa mba?”

” Saya ***** [sebut aja pemuda itu dengan si ‘D’], kuliah di S***,[Perguruan Tinggi yang cukup terkenal dan Keren, tempat orang- orang cerdas, di Kota Bandung.] Baru semester 2 mbak.”

Dan ceritanya pun mengalir. [Midnite, baru sampe Kebumen, menuju Cilacap]. D aseli Solo dan sering banget pulang ke Solo, karena ia ngerasa gak betah tinggal di Kota Kembang. Apalagi dia kehilangan geng-nya di SMU dulu.

 ” Dulu, saya anak nakal lho mbak, tiap hari pulang malam, maen, kelayapan, motor- motoran, hampir di DO dari Sekolah, malah sampe 2 kali, pas SMP sama pas SMA. Nakal banget ya mba? Bahkan aku keterima di S*T* ga ada yang percaya padahal lewat Test UM-nya. Aku belum betah di Bandung, ga ada temen gaul mba, jauh dari keramaian, ga ada kemauan belajar, tiap hari nge- GAME. [masih untung dari pada terjerumus ke kehidupan yang ga jelas, pikirku]”

” Saya, pengen berubah mbak, tapi susah juga ya, klo dulunya bekas anak nakal.”

 

  Baca lebih lanjut

Ngerasa sibuk?!..Masih ‘ngeluh..

Beberapa minggu terlibat olah data penelitian biologi, cukup familiar dengan uji berat kering-basah tanaman, tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun dan parameter- parameter lain. Glifosat, Legin, Urea, dan jenis pupuk lainnya. Menyenangkan. Bukan hanya itu, ada semangat dan kesungguhan saat berkumpul dengan mereka di Basecamp. Ya belakangan aku tau, ternyata anak- anak ibu-ibu dan bapak- bapak punya ruangan yang bisa dibilang WAH untuk basecamp mahasiswa, ada dispenser plus ‘bumbu’ untuk meramu teh manis, 3 unit PC yang terhubung internet 24 jam, Full AC dan lantai tertutup karpet hijau. Ruangan di Lt. 2 Fakultas Biologi yang nyaman jauh dari kebisingan.

Berawal dari nyasarnya seorang mba dan temannya ke MMU [Mushola MIPA Utara. red], yang lagi bingung cari biro olah data statistik dan malah bertemu denganku, februari lalu. Sejak itu, aku cukup sering bermain dengan data biologi, berkumpul di basecamp dan berkenalan dengan mereka. Mba Nun, Pa Ed, Pa Ton, Bu MIft, Pa Sutar dan teman- temannya. Beasiswa dari sebuah departemen tempat mereka mentransfer ilmu yang mengantarkan mereka ke Kampus Biru ini. Keren.

Basecamp tempat mereka melepas penat dan bercanda ria, berkisah tentang keluarganya, dari anak yang paling tua sampe tingkah bayi kecilnya, atau berbagi tips tentang rumah tangga dan persoalan keluarga. Keluarga besar dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang sering jadi bahan candaan, ada yang seneng buat orang senyum, ada yang slalu rendah hati, “ah saya kan hanya guru.. ga sehebat anak zaman sekarang, bahkan murid saya jauh lebih keren dari saya, saya mah hanya berusaha hidup lebih baik aja”. Ada seorang bapak, yang selalu membuatku kangen suasana rumah [ah, melankolis.. ]. Ya beliau dari Bandung, gaya canda orang sunda melekat khas, logat sundanya yang kental cara memperlakukan orang sekitar dengan gaya priangan sedikit mengobati homesick yang melanda. Pernah beliau mengajaku bertualang naik Kereta Api Ekonomi, untuk menghemat ongkos pulang, padahal itu hari libur –long weekend- yang pastinya ga ada tiket kosong untuk bisa menikmati tempat duduk. “Berani, neng? Hayu atuh! Ulah sibuk teuing di jogja, meungpeung aya batur ka Tasik urang sareng jeung bapa. ” Ada seorang ibu yang selalu berbagi dan sudah kuanggap seperti mbak-ku, menyemangati untuk selalu belajar dan belajar.

Guru- guru yang menyenangkan. Jadi ingat cerita Andrea Hirata dan Bu Muslimah di Kick Andy. Mengharukan.

Baca lebih lanjut