Liburan Sekolah

“Liburan kemana kita?”

Pertanyaan simpel tapi tetep butuh jawaban pasti, karena janji sama bocil itu harus diusahakan ditepati. Jadi ya jawabannya harus realistis. Liburan sekolah bersamaan dengan liburan natal dan tahun baru yang kemungkinan besar macet dimana- mana.

Dan alhamdulillah liburan seru , seru itu kalau liburnya sama- sama, ini liburan kaka #kayyisahkiani, mana liburanmu?

Suguhan Pagi

Ini bukan pagi yang sebelumnya pernah kutemui, pagi dengan suguhan berbeda. Pagiku tak sepanas ini, ia tak sekotor ini dan pagiku tak sesibuk ini, ahaaa benar aku selalu cinta pagi, tapi bukan yang ini.

Pagiku penuh dengan cinta, senyumnya dan senyum yang memesona itu, ah ya aku selalu merindukannya, aku merindukan pojok hitam putih ku, dengan semua yang serba sederhana tapi tak sesederhana rasanya. Ah aku merindukan kalian…

Pagiku sibuk, tapi aku mencintainya teramat bahkan. Meskipun hanya menempelkan sepotong benda dan sebentuk kuningan. Ah aku merindunya.

Menemaninya berjalan,  setiap hari, membacakan buku kesukaannya kapanpun ia minta. Bahkan menikmati tidur pagi bersamanya. Meskipun dengan sebuah wastafel yang selalu sibuk. Ah ya aku menikmatinya lebih lagi aku merindunya.

Pagiku tak sepanas ini, masih banyak rumput dan tanaman hijau, bahkan matahari yang tak terlalu menyengat. Pagiku dengan kicauan burung dan hiruk pikuk petani belakang pondokku… Kerbau pun masih setia menemaninya bukan kerbau modern, tapi benar2 kerbau.

Pagiku bersama segerobak sayuran, obrolan ringan ibu- ibu dan bumbu dapur. ya aku bersahabat dengan mereka. Pagiku yang luar biasa. Mungkin tak ditemui lagi oleh ibu- ibu metropolitan, karena disini gerobak itu hanya bertemu dengan asistennya.

Pagi yang selalu kurindukan dengan sepotong tempe dan bawang goreng atau ceplok telor dan semangkuk mie kocok bandung plus sawi putihnya…

Lebih dari itu, aku merindukan setiap pagi bersama cintaku.

Tapi ini pilihan, insyaAllah hanya sementara, baiklah sepertinya tak ada salahnya berteman dan menikmat pagiku dengan suguhan yang berbeda. Smoga Allah memudahkan proses ini, menguatkan kami dan meningkatkan rasa sayang dan cinta kami…

merindukan kalian, , ,

ibu rumah tangga

Siang… sepertinya semester ini akan lebih sering berada di rumah, tidak seperti semester- semester sebelumnya. Memang dulu pun tak padat, tapi sekarang lebih longgar. Tak lagi mengajar tetap di kampus, mengurangi jadwal les bimbingan belajar serta jadwal les di rumah pun tak sepadat dulu. Yah, bisa dibilang aku ibu rumah tangga sekarang. Ternyata tak mudah menjadi ibu rumah tangga. Maka ku acungkan jempol untuk ibuku, ibu mertua ku dan para ibu rumah tangga lainnya. Seperti santai dan mungkin banyak yang bilang ibu rumah tangga itu tak punya pekerjaan, padahal agenda di rumah itu padat… apalagi bagi seorang ibu dengan seorang anak, dua orang, tiga orang bahkan ada yang lebih dari 10 orang. Subhanallah…

sementara tak lagi ngampus

Hari ini ada rapat dosen yang biasanya setiap pergantian semester ku ikuti… Tapi tidak untuk hari ini. Hari ini menemani Kiani di rumah. Bukan itu alasannya, tapi karena insyaAllah semester depan dan semester selanjutnya tak lagi mengabdi di kampus itu. Kampus yang menjadi bagian rutinitasku selama kurang lebih 2 tahun, kampus yang mengajari ku kesabaran, kampus yang terkadang memancing ku untuk mengeluh dan pastinya kampus yang memberikan kesempatan pertama untuk menjadi seorang pengajar. Ah ya, kampus yang mungkin tak se-hebat dan se-top kampus ku dulu, tapi setidaknya aku mencoba berbagi di kampus ini… Bahkan aku merasa belum optimal berkontribusi di sini… Tapi ya sudahlah, setidaknya sudah kuusahakan semampuku…Maaf.

Alasannya sederhana. Ada yang lain selain kampus itu. Kota metro itu insyaAllah akan menjadi bagian dari daftar kota yang pernah aku kunjungi. Aku [telah] memilihnya.

Ah, mahasiswa- mahasiswa itu mungkin akan kurindukan, kenakalan, tugas- tugas di tumpukan folio, pemakluman untuk tak masuk atau sekedar mengerjakan tugas, curhatan ala remaja dan tentang mereka semua mungkin akan kurindukan juga. Dan aku akan merindukan berdiri di depan kelas untuk sekedar berbagi atau bahkan hanya bercerita ngalor ngidul…

Maaf. Maaf. Maaf. Jika ibu tak seperti yang kalian harapkan. Karena ibu juga manusia. Maaf jika soal- soal ibu terlalu sulit atau terlalu mudah… Atau nilai yang tak sesuai. Smoga kita menjad lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain, karena kita punya potensi untuk itu…

-STMIKTasikmalayawithKalkulus,StatistiknLogika Matematika-

Kelas Besar

Alhamdulillah tak terasa, sudah hampir dua tahun bergabung dengan sekolah tinggi ini, mungkin belum banyak yang dilakukan untuk kemajuannya selain berbagi dengan para mahasiswa nya yang semakin hari semakin banyak saja.  Turut bahagia, tapi di sisi lain ada kekhawatiran yang lain juga. Mahasiswa yang membludak dengan jumlah sarana dan alat ajar yang menurut ku ‘cukup’ dipaksakan. Ah masa iya satu kelas ada 60 orang bahkan kelas karyawan yang bisa bersama ku setiap rabu sore lebih padat lagi sempat mencapai 132 orang…

Klo hanya sesekali atau kuliah umum, bolehlah, tapi ini setiap pekan. Ah rasanya sangsi bisa berbagi secara optimal. Tapi itulah yang terjadi dan harus dinikmati. Kelas ini cukup membuat kepalaku berputar, ah bukan hanya dengan mahasiswanya yang 90% karyawan yang usianya di atasku, tapi dengan jadwalnya yang bertabrakan dengan waktu maghrib. Suatu hari terdengar seorang mahasiswa saat pertemuan pertama “Ngerti agama, tapi sholat ditabrak…” Okelah pekan depan rencanaku memang ada ‘break’ untuk sholat. Maka setelah 3 pekan dijalankan, hasilnya kelas yang tadinya sumpek dan padat sampe di ujung pintu hanya tersisa seperempatnya.  Apa maunya???

Terserah. Aku tetap akan begini dan mereka silakan… Mungkin hanya beberapa oknum kelas yang ngeyel, selebihnya masih banyak yang hadir sesuai jadwal dan cukup menikmati ‘suguhan sore’ menjelang magrib. Yah memang ada banyak hal yang tak sesempurna seperti yang kita harapkan tapi bisa jadi itulah yang terbaik…

Rabbishrahlii shodri wa yasirlii amri wahlul ‘uqdatammillisaani yafqahu qauli…

Mengulang Sejarah

Benarkah sejarah itu bisa terjadi lagi? Ini bukan tentang pelajaran sejarah yang rumit. Hanya sebuah cerita sederhana saja. Mamah adalah cucu kesayangan yayut [panggilan untuk ibunya nenek] dan aku merasa bisa bebas bercerita pada mimih dari pada mamah. Dan Kiani?

Aku berharap ia lebih dekat pada ku dan abahnya. Memang tak ada yang salah klo seorang anak lebih dekat pada nenek/ kakek nya, tapi wajar bukan jika seorang ibu ingin anaknya lebih dekat padanya dibanding dengan orang lain. Seorang ibu berharap bisa menjadi orang tua, sahabat dan guru sekaligus. Perfecto!! Ah ya, aku sedang dalam proses itu sekarang. Menjadi seorang ibu memang tak mudah. Mamah, nuhun tos ngadidik neng janten jalmi sapertos ayeuna.

Aku bukan siapa- siapa, hanya seorang anak biasa yang sedang belajar menjadi seorang istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak- anakku. Sebuah proyek masa depan yang panjang dan kontinu. Yang kita tanam maka itulah yang akan kita panen esok hari. Proses belajar sepanjang masa yang tak habis dimakan usia. Didikan mamah dan papah dulu menjadikan aku yang sekarang. baiklah, minimal sama dan semoga bisa lebih baik. Memang tak 100% karena dalam perjalanan ada banyak faktor yang mempengaruhinya, termasuk lingkungan lain di luar rumah.

Allah, jadikan aku seorang anak yang mensyukuri nikmatnya menjadi seorang anak, jadikan aku istri yang slalu bersyukur dan berkhidmat atas nikmatnya mendampingi suami dan jadikan aku ibu yang bersyukur dan memahami hakikat seorang ibu… serta jadikan aku hamba Mu yang slalu berusaha menjadi hamba yang Kau inginkan bagian dari orang- orang sholeh/a… amiin.